b-fa.jpg
Profil Program Studi Falsafah dan Agama Program Studi
ku_fa.jpg
Kurikulum dan Metode Perkuliahan Kurikulum disusun dengan
tim-fa.jpg
Nama dan Asal Perguruan Tinggi Para Pengajar: A.Luthfi

Peristiwa Madiun 1948 PKI Bergerak

  • PDF

Jakarta, Kompas - Komunisme sebagai gerakan yang menawarkan sistem pemerintahan komunal akan sulit tumbuh dan didukung rakyat lagi di Indonesia. Selain punya sejarah kelam di Tanah Air, gerakan komunisme di dunia Internasional juga terbukti gagal, bahkan beberapa negara komunis kini sudah menyerap paham kapitalisme.

Demikian disampaikan peneliti sejarah asal Belanda , Harry A.Poeze, dalam diskusi dan bedah buku karyanya sendiri, Madiun 1948 : PkI bergerak tertiban Yayasan Obot, di Jakarta Jum'at 6 Januari 2012. Acara ini digelar  Program Studi Falsafah dan Agama, Universitas Paramadina, itu dihadiri para peneliti, mahasiswa, dosen dan masyarakat umum.

Harry A Poeze menjelaskan "Kita memerlukan visi baru untuk melihat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di madiun 1948". Berdasarkan dokumen-dokumen sejarah, dia menyimpulkan, peristiwa tersebut bukanlah gerakan lokal melainkan upaya perebutan kekuasaan terhadap Pemerintah Republik Indonesia saat ini. Gerakan tersebut dilakukan secara nasional dengan didalangi Moeso, pimpinan PKI yang baru datang dari Moskow, Uni Soviet.

Pemberontakan itu dapat ditumpas oleh Pemerintah dengan memakan banyak korban yang tewas ataupun ditahan. Akan tetapi  beberapa tahun kemudian, PKI menguat lagi. Partai ini lalu benar-benar tenggelam setelah peristiwa 1965, terutama ketika orde baru membubarkan dan melarangnya. Partai ini tidak muncul lagi bahkan setelah Indonesia masuk era reformasi yang terbuka dan demokratis.

"Komunisme sebagai gerakan yang menawarkan sistem pemerintahan akan sulit tumbuh lagi di Indonesia, " ujarnya.

Di dunia internasional, komunisme telah kalah oleh kapitalisme. " Sebagai sistem negara, sejarah komunisme telah gagal dan Uni Soviet dan negara-negara lain yang komunis telah runtuh katanya.

 

 

Kampus Harus Menginisiasi Integritas Moral Bangsa

  • PDF

Dosen Falsafah dan Agama universitas Paramadina Abdul Muis Naharong menekankan pentingnya integritas dijaga dan dipraktikkan di lingkungan akademik mengingat dunia kampus adalah dunia yang sarat dengan pengetahuan dan moral. “Meski terkadang berat menerapkannya, tapi itu harus dipraktekkan. Saya di kelas menerapkan pentingnya on time (tepat waktu,red) dan menghindari kecurangan absen,” kata Muis sapaan akrabnya. Last Updated on Thursday, 22 December 2011 15:33 Read more...

Selamat Datang "Anak Cucu" Intelektual Cak Nur

  • PDF

images/stories/FA/2011-09-13 11.47.55 fellow.jpg

Selamat Datang " Anak Cucu" Intelektual Cak Nur

Graha Mardhika mahasiswa baru Universitas Paramadina telah berakhir! Dalam sesi orientasi mahasiswa baru di Program Studi Falsafah dan Agama sendiri (13/9/2011), disampaikan sejumlah hal baik oleh Kaprodi, dosen dan Himafa. Pada kesempatan tersebut, Ketua Program Studi Falsafah dan Agama, M. Subhi Ibrahim, M.Hum menyampaikan sejumlah pesan  :

Pertama, ucapan selamat bagi mahasiswa baru yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Paramadina, sekaligus sebagai "anak cucu" intelektual Cak Nur yang akan melanjutkan pembaharuan, pencerahan, dan penyegaran pemikiran Islam di Indonesia.

Kedua, meskipun Program Studi Falsafah dan Agama setara dengan jurusan Aqidah Filsafat (fakultas ushuludin), namun ia memiliki kekhasan dalam fokus kajiannya, yakni falsafah kenegaraan dengan studi peradaban. Dan yang menggembirakan adalah Program Studi Falsafah dan Agama telah terakreditasi dengan nilai A.

Ketiga, mahasiswa baru diharapkan memelihara api optimismenya selama studi di Program Studi Falsafah dan Agama, serta bersungguh-sungguh belajar, baik  di dalam kelas (dengan mengikuti perkuliahan dengan baik) maupun network. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menjaga keseimbangan antara ketajaman dan kekritisan intelektual dengan moralitas. (MSB)

 

 

 

Bedah Buku Indonesia, Wikileaks, dan Julian Assenge Karya Hendri F. Isnaeni

  • PDF

 

 

Bedah Buku Indonesia, Wikileaks, dan Julian Assenge Karya Hendri F. Isnaeni

 

Sekali lagi, sebuah buku karya mahasiswa Program Studi Falsafah dan Agama dibedah!!! Buku tersebut berjudul “Indonesia, Wikileaks, dan Julian Assenge” hasil racikan intelektual Hendri F. Isnaeni. Dalam bedah buku (Rabu, 20/04/2011), yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina di Aula Nurcholish Madjid, hadir dua pakar sebagai pembicara, yaitu Budiarto Shambazy (Wartawan Senior) dan Bima Arya Sugiarto (Dosen HI Universitas Paramadina).

 

Hendri F. Isnaeni, sang penulis buku yang terhitung sangat produktif, adalah mahasiswa Program Studi Falsafah dan Agama penerima Paramadina Fellowship 2008. Dalam usia yang relatif muda, Hendri, demikian sapaan akrabnya, telah menulis sejumlah buku, antara lain: Romusha: Sejarah yang Terlupakan (Ombak, Maret, 2008), Kontroversi Sang Kolaborator (Ombak, Juni, 2008), Partai Demokrat Antek Pendjadjah (Ufuk, 2011) , dan buku yang baru dibedah, yaitu Indonesia, Wikileaks, dan Julian Assenge (Penerbit Ufuk, 2011). Selain menulis buku dan artikel di berbagai media nasional dan lokal, Hendri pun memiliki segudang aktivitas lain, mulai dari menjadi jurnalis di Majalah Historia, sampai menjadi peneliti di PSIK. Minatnya yang kuat pada ilmu sejarah terwarnai secara apik dengan ketajaman analisis filosofis yang ia raup dari kawa candradimuka Program Studi Falsafah dan Agama.(MSB)

Last Updated on Friday, 29 April 2011 15:05

Pelatihan Penulisan Ilmiah dan Populer

  • PDF

Pada tanggal 17/03/2011, Prodi Falsafah dan Agama  Universitas Paramadina mengadakan “Pelatihan Penulisan Ilmiah dan Populer untuk Mahasiswa (khususnya FA)” dari jam 09.00-16.00 WIB. Penulisan ilmiah diisi oleh Prof. Dr. Mulyadi Kertanegara, dan penulisan popular oleh Dr. Herdi Sahrasad.

Saya ingin berbagi pengetahuan yang saya serap dari Pak Mulyadi. Pak Mul sendiri adalah figur yang patut dicontoh dalam aktivitas menulis. Beliau telah menerbitkan 20 buku, sebagian besar bertema filsafat. Menariknya, sebagian besar buku beliau diselesaikan penulisannya dalam jangka waktu relative singkat, rata-rata di bawah satu bulan. Di bawah ini sejumlah catatan yang saya dapatkan dari paparannya.

Motivasi Menulis. Setiap orang memiliki keunikan. Karenanya, tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lain. Begitu pula dalam masalah motivasi. Setiap orang memiliki cara memotivasi diri yang berbeda-beda. Misalnya, Pak Mulyadi mendapatkan dorongan menulis begitu kuat setelah dalam diri beliau muncul kesadaran akan kematian, batas dari hidup. Kematian adalah sesuatu yang pasti datang pada tiap individu. Dan, jika wafat dan kita tidak tidak meninggalkan “jejak” karya, maka kita pun “hilang” dari panggung dunia, tidak diingat lagi oleh siapapun. kita tidak abadi! Nah, bagaimana cara kita yang tidak abadi “mengabadikan” diri dalam sejarah? Salah satu cara yang mungkin adalah menulis. Singkatnya, menulis merupakan cara kita mengabadikan diri dalam catatan sejarah. Ada orang yang meninggal ribuan tahun yang lalu, tetapi kita masih mengingatnya karena meninggalkan bekas dan jejak pikiran. Dan ada pula orang yang baru seminggu meninggal, namun orang sudah melupakannya. Motivasi menulis bisa bersifat “transendental”, atau juga material, seperti motif agar mempunyai penghasilan tambahan dan sebagainya.

Kompetensi Menulis. Ada sejumlah kompeten yang wajib dimiliki seorang penulis. Pertama, kemampuan teknik menulis, sekaligus memiliki kepekaan gramatikal. Artinya, modal awal seorang penulis adalah pengetahuan tentang bagaimana (aturan) menulis dalam satu lingkungan bahasa tertentu. Pada dasarnya, menulis merupakan bentuk komunikasi, penyampaian pesan kepada orang lain. Dengan kata lain, tujuan menulis adalah agar orang lain mengerti apa yang kita pikirkan. Pikiran kita diungkapkan dalam bahasa. Oleh karena itu, kita butuh language skill untuk menyampaikan pikiran dan pendapat kita. sehebat apapun pikiran seseorang tidak akan dimengerti orang lain jika dalam menuliskan pikiran-pikirannya tidak mengikuti kaidah tata bahasa, grammar.

Kedua, gaya bahasa. Seperti telah dijelaskan di a tas. Tujuan menulis adalah agar orang lain memahami dan mengerti pikiran kita yang kita ungkapkan dalam bentuk tulisan. Selain itu, pada umumnya, pembaca akan bergairah membaca tulisan kita jika gaya bahasa kita luwes, ringan, dan renyah. Prinsipnya, yang terpenting adalah agar orang lain mengerti sekaligus menikmati tulisan kita. Gaya bahasa atau menulis kita temukan dalam proses menulis itu sendiri.

Ketiga, stamina. Menulis mengandaikan bahwa kita “mampu “ melakukan aktivitas menulis. Kemampuan menulis terkait erat dengan stamina. Stamina yang dimaksud adalah stamina fisik dan mental. Seorang penulis harus menjaga kesehatan, dengan memiliki gaya hidup sehat. Bagaimana kita menuangkan pikiran jika badan kita sakit. Selanjutnya, kita pun mesti menjaga stamina mental, terutama ketenangan batin dan konsentrasi. Agar kita memiliki ketenangan, kita harus menghindari segala sesuatu yang meresahkan. Dalam agama, “sesuatu yang meresahkan” itu adalah dosa. Sedangkan daya konsentrasi bisa kondisikan dengan memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menulis. Sebetulnya, kita bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Namun, selalu ada waktu dan tempat khusus yang membuat kita lebih berkonsentrasi dalam menulis.

images/stories/FA/pelatihan ilmiah sesi 1.jpgKetiga, sistem berfikir sendiri. Pada dasarnya, menulis adalah mewahyukan diri kita dalam simbol bahasa tulis. Artinya, yang kita tuangkan dalam tulisan adalah “apa yang kita miliki”. Karenanya, tulisan merupakan ekspresi lahir dari pikiran dan perasaan kita yang terpendam dalam relung diri. Rutinitas dalam menuliskan “diri’ kita membuat kita terlatih dalam berfikir. Dengan demikian, pikiran kita pun tersistematisasi sedemikian rupa, membentuk sistem berfikir sendiri. Dengan sistem berfikir tersebut, seseorang dapat mengambil posisi, mengkritik satu gugus gagasan tertentu yang tidak disepakainya. Tulisan yang berkarakater kritik adalah bukti bahwa suatu tulisan mengandung analisa.

 

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

Mengenal Wacana KeIslaman : Tasawuf oleh M.Subhi, M.Hum

  • PDF

Mengenal Wacana KeIslaman : Tasawuf , Pembicara : M. Subhi, M.Hum, Moderator : Fuad Mahbub Siraj, Ph.D. Diskusi serial ini dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2010, Jam 10.00-12.00 WIB, Ruang : Granada. Pada diskusi ini membahas tentang Tasawuf sebagai Sebuah Pengantar.

Page 4 of 7