Seleksi Mahasiswa Baru 2015

Ayo segera bergabung dengan Universitas Paramadina! berikut jadwal pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2014/2015 untuk program studi S1: - Desain Komunikasi Visual- Desain Produk Industri- Falsafah Agama- Hubungan Internasional- Ilmu Komunikasi- Manajemen- Psikologi- Teknik InformatikaTanggal Ujian: 26 April 2015, 24 Mei 2015, 7 Juni 2015Pendaftaran online klik link: http://goo.gl/BTlk4 (http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fgoo.gl%2FBTlk4 h=ZAQEyHoQy enc=AZMvbtHi3GCeua9oavwiUgEY-m6XBhHaidIQSbdlbSzhlLHfCJmzxPR1_fZwaN1zdg5aDXfwCoywjYGfNXl_tkfn0FMQrNzfRCXN_tc4rbYyVimfVYxMKWozo1KwoynzprcZ_lHXgQnRJkrSN7dryX_I s=1)Permintaan Brosur: kirim nama alamat lengkap via SMS ke 0815-9181188 Info 24 Jam: 0815-918-1188PIN BB: 28249c59Line: ParamadinaUniversityInfo...


more info

Kelas Paralel - Ilmu Komunikasi

Pekerja dengan pendidikan Sarjana di tanah air hingga beberapa tahun terakhir ini masih rendah, yaitu hanya sebesar 5,6 juta orang, 5,15%  dari jumlah total pekerja. Salah satu penyebab dari hal tersebut adalah kesempatan menjadi sarjana S1. Paramadina mendorong peningkatan kualitas manusia yang sudah bekerja untuk meraih sarjana di kampus peradaban ini, melalui program Kelas Paralel. Universitas Paramadina menghasilkan sarjana dengan enam kemampuan; kedalaman iman, kemandirian jiwa, ketajaman nalar, kepekaan nurani, kecakapan...


more info

Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP)

LATAR BELAKANG (RATIONALE) Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP) adalah Program Pendidikan Eksekutif yang merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Paramadina dengan Company-Community Partnerships for Health in Indonesia (CCPHI) dan didukung oleh Ford Foundation.  CCPHI adalah organisasi nirlaba yang mempromosikan dan memfasilitasi kemitraan untuk masyarakat yang sehat dan berkelanjutan. EPSP merupakan suatu program inisiatif untuk menjawab tantangan terhadap globalisasi yang merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs), bisnis inklusif dan kemitraan antar sektor.  EPSP...


more info

Program Studi Falsafah dan Agama

  Profil Program Studi Falsafah dan Agama Program Studi Falsafah dan Agama mempelajari ilmu agama, dalam hal ini agama Islam, yang ditopang oleh pengenalan terhadap persoalan filosofis. Program ini memberikan konteks kepada ilmu agama terkait dengan perubahan zaman yang menuntut usaha-usaha ijtihad. Semua permasalahan ilmu pengetahuan mempunyai dimensi falsafah. Para mahasiswa yang mendalami falsafah akan diperkaya, baik dari segi kekritisan dalam menilai suatu cara pandang maupun dalam kemampuan berpikir. Melalui keterbukaan pikiran, kemampuan...


more info

Fakultas Ilmu Rekayasa

  Program Studi Teknik Informatika Program Studi Teknik Informatika (PSTI) di Universitas Paramadina didirikan pada tahun 1998 sebagai jawaban atas terus meningkatnya kebutuhan dunia usaha akan Sarjana Teknik Informatika. PSTI memfokuskan diri ke bidang Network Technology. Hal ini berguna untuk menjawab kebutuhan pasar kerja yang menuntut lulusan TI menguasai bidang pengembangan jaringan. Mahasiswa program studi ini mempelajari berbagai disiplin ilmu yang terkait langsung dengan teknologi informasi, baik dalam bidang hardware maupun software....


more info

Paramadina Graduate School Registration

Paramadina Pascasarjana Paramadina membuka pendaftaran mahasiswa baru, dengan jadwal sebagai berikut: Gelombang I No Agenda Tanggal 1 Pendaftaran Gelombang I 01 Januari – 30 Maret 2014 2 PEPT Gelombang I 10 April 2014 3 Interview Fellowship Tahap I 14 -17 April 2014 (Jadwal ditentukan Prodi) 4 Interview Reguler Gelombang I 14 -17 April 2014 (Jadwal ditentukan Prodi) 5 Interview Fellowship Tahap II 22/23/24/25 April 2014 (Tentative) 6 Pengumuman Penerimaan Gelombang I 25 April 2014 7 Pengumuman Penerimaan Fellowship Gelombang I Ada kemungkinan berbarengan dengan gelomang ke dua (tergantung kebijakan) 8 Daftar Ulang dan Pelunasan Cicilan Tahap I 28...


more info
012345

kalender

Tue Apr 21 @08:00 - 05:00PM
Peran Psikologi dalam Ikut Serta Membangun Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah yang Sehat dan Humanis
Tue Apr 21 @08:00 - 05:00PM
Otoritas Jasa Keuangan dan Perbankan Siswa dan Guru SMA Se DKI Jakarta
Sat Apr 25 @08:00 - 05:00PM
Wisuda Sarjana dan Pasca Sarjana Universitas Paramadina
Sun Apr 26 @08:00 - 05:00PM
Ujian Masuk SMB 2015
Sun Apr 26 @08:00 - 05:00PM
Spirit of Women: Kompilasi Karya Dosen dan Guru Perempuan Internasional 2015

Award

News

Pameran 21 - Spirit of Women; Kompilasi Karya Dosen dan Guru Perempuan Internasional 2015 Universitas Paramadina akan menyelenggarakan "PAMERAN 21- SP...
Penutupan Pendaftaran Paramadina Fellowship 2015 Terima kasih kami ucapkan kepada calon Insan Muda Paramadina...
Penyegaran Psikodiagnostika Administrasi Tes Wechsler Penyegaran Psikodiagnostika Administrasi Tes Wechsler Universitas Paramadina berkerjasama dengan HIPMSI Banten d...
Game in the Past, Present, and Future Game in the Past, Present, and Future Talkshow kali ini Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Un...
International Festival of Language and Culture International Festival of Language and Culture International Festival of Language and Culture (IFLC) meru...
Lomba "Karya Tulis Paramadina (KTP) 2015" untuk Guru SLTA dan Sederajat Lomba PENDAHULUAN Dalam rangka mendukung peningkatan kompetensi G...

Masa Depan Kartini Kita

Bayangkan Indonesia 2045.  Saat itu kita merayakan 100 tahun Proklamasi Kemerdekaan.  Seperti perayaan 100 tahun negara-negara maju sebelumnya, kita tentu berharap republik yang kita cintai ini sudah

maju, anak dan cucu kita sudah mapan hidupnya, segala kesulitan ekonomi, sosial,

budaya, hankam, dan politik sirna sudah.  Berita heboh kenaikan harga BBM sudah

jadi sejarah. Segala perbedaan suku, agama, ras, dan golongan tidak menjadi

halangan buat siapapun warganegara Indonesia untuk mengisi jabatan publik

dan swasta.  Kita juga tak lagi melihat laki-laki atau perempuan secara bias untuk menilai kinerja.

Saat kita memperingati Hari Kartini, sebenarnya ada pekerjaan rumah yang belum

selesai.  Kesetaraan gender sudah merasuk ke benak banyak orang,

tetapi pelaksanaan di lapangan masih belum luas.  Sampai hari ini, kita

bisa merasakan ketidakadilan terhadap pekerja perempuan di segala sektor usaha.

Sumber dari ketidakadilan semacam ini sebenarnya dapat dirunut ke sektor pendidikan.

Hampir semua pekerja berasal dari pendidikan, karena di situlah mereka

mendapatkan ilmu dan ketrampilan.  Yang menarik, menurut studi Bappenas dan ACDP

(Analytical & Competency Development Partnership), kita baru berhasil memasukkan

anak-anak perempuan ke sekolah, tetapi belum menjaga agar tetap sekolah (stay), belajar (learn),

dan berprestasi (achieve).  Bukankah itu yang diharapkan Kartini dalam pikiran-pikirannya?


“Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai

dengan keperluan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup

seperti halnya kaum laki-laki,” begitu tulisan Kartini. Kegundahan ini terbit pertama kali pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javanese Volk ("Dari Gelap menuju Terang: Pikiran pikiran tentang dan atas nama rakyat Jawa ").  Buku yang mengoleksi surat-suratnya itu terbit tujuh tahun setelah dia wafat pada usia 25 tahun karena komplikasi saat melahirkan.

Berkat suara Kartini pula, di saat Indonesia merdeka tahun 1945, saat itu juga pemerintah menyatakan

kesamaan hak bagi laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, hak suara dalam politik, dan hak berusaha

dalam ekonomi.  Kampiun demokrasi Amerika Serikat saja baru memberikan hak suara buat kaum perempuan

lewat Amandemen konstitusi ke-19 pada tahun 1920 – sekitar 145 tahun setelah negeri adidaya itu merdeka!

Kita justru jauh lebih maju dari Amerika dalam hak suara politik.  Yang menjadi persoalan adalah perempuan kita

belum berperan aktif di politik.  Mengisi kuota 20% di kursi DPRD dan DPR saja sudah sangat terengah-engah.  Dalam studi ACDP dan Bappenas, terungkap juga bahwa kaum perempuan belum benar-benar beruntung

dalam mengenyam pendidikan.  Mungkin saja di sini persoalannya sehingga studi yang juga didukung Kemenag

dan Kemendikbud itu menyarankan pengarusutamaan gender (gender mainstraiming) dalam pendidikan, mulai dari

usia dini hingga perguruan tinggi.  Potret saat ini memang masih memrihatinkan: angka partisipasi pendidikan di

level SD mencapai 94,8%, namun langsung jatuh ke 67,6% di tingkat SMP dan drop ke 45,6% di SMA.  Secara nasional,

hampir  sepertiga siswa lulusan SD tak meneruskan ke jenjang berikutnya.  Masalahnya, begitupun dalam

periode 2000-2010, kenaikan partisipasi perempuan sebesar 6,87% (kalah dari laki-laki yang 8,02%) di tingkat SMP

dan 4,58% (laki-laki mencapai kenaikan 7,86% ) di SMA.   Yang sangat menarik adalah kenaikan partisipasi dalam

satu dekade itu di tingkat perguruan tinggi justru lebih baik sedikit perempuan (11,12% lawan 10,89% untuk laki-laki).

Studi ACDP itu menemukan bahwa perempuan lebih sedikit yang drop-out dan lebih banyak yang meneruskan ke

jenjang berikutnya apabila diberi kesempatan.  Di sinilah kuncinya: banyak keluarga miskin cenderung  mengutamakan

laki-laki untuk bersekolah.  Banyak keluarga tetap ngotot anak laki-lakinya bersekolah, meskipun sebenarnya tidak mampu.

Contohnya, siswa laki-laki lebih banyak yang tinggal kelas, sehingga menikmati pendidikan lebih lama

(rata-rata 8,34 tahun versus perempuan 7,5 tahun).  Korban kemiskinan terbesar sebenarnya kaum perempuan.

Seseorang tidak bersekolah tentu ada alasannya.  Berikut adalah alasan mereka dari yang terbanyak: tidak punya uang,

harus bekerja untuk membantu keluarga, tidak lulus tes masuk, jarak sekolah terlalu jauh, sudah cukup bersekolah, malu,

dan menikah.  Masuk akal kalau skema berbagai bantuan seperti Beasiswa Miskin, Kartu Indonesia Pintar, Bantuan

Operasional Sekolah (BOS), dan Bidik Misi sangat membantu.  Anak-anak perempuan paling banyak yang mengalami

semua alasan itu, khususnya yang terakhir akibat pernikahan dini.  Saat ini, pemerintah melalui BKKBN dan kantor

desa/lurah sudah gencar memromosikan bahaya dari pernikahan dini, dan mendorong semangat untuk meraih ilmu di

usia muda sebelum menikah.  Ini ironis, karena dulu ibu Kartini yang berjuang agar anak gadis tidak meninggalkan sekolah

pada usia 12 tahun (setara lulus SD) untuk dipingit, siap-siap menikah.  Indonesia yang sebentar lagi merayakan

kemerdekaan yang ke-70 masih belum bisa mewujudkan mimpi Kartini tersebut secara paripurna.

Masih ada 30 tahun sebelum kita merayakan seabad kemerdekaan.  Perjuangan tokoh perempuan saat ini masih

belum selesai.  Kita pernah memiliki presiden wanita, Megawati Sukarnoputri, sedangkan Amerika baru akan memilikinya

(kalau Hillary Clinton menang).  Kita melihat potensi anak-cucu kita yang perempuan dalam prestasi akademik yang

tidak kalah dari laki-laki.  Bahkan, mereka dalam beberapa kesempatan menunjukkan kinerja di dunia kerja yang

sangat menjanjikan.  Indonesia akan besar apabila mengerahkan seluruh potensinya, terlepas apakah anak bangsa itu

dari suku, agama, ras, golongan, ataupun jenis kelaminnya.  Bangsa yang besar tidak hanya menghargai sejarah,

tetapi juga yang menghargai semangat pahlawannya.



Penulis : Totok Amin Soefijanto, Ed.D
Deputi Rektor Universitas Paramadina
Doktor Pendidikan dari Boston University dan Peneliti senior Paramadina Public Policy Institute (PPPI) di Jakarta
Tulisan ini sudah dimuat di Harian Jawa Pos, Selasa 21 April 2015

 

Perjalanan di Negeri Sakura Melalu Jenesys 2.0 Mass Media Batch 11

Sejak tahun 2007-2012, dan program jenesys 2.0 merupakan kelanjutkan dari program Jenesys, yang diumumkan langsung oleh Shinzo Abe pada tanggal 18 januari 2013, saat berkunjung ke Indonesia. JICE (Japan International Corporation Center) sebagai penanggung jawab kegiatan ini, bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika. Jenesys 2.0 mengundang 10.000 pemuda Negara-negara di Asia Tenggara ke Jepang, dan mengirim 500 pemuda Jepang ke Negara- Jenesys (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth) merupakan sebuah program pertukaran pemuda yang diinisiasi oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Program Jenesys sudah terlaksana negara di Asia Tenggara. Program Jenesys 2.0 bertujuan untuk mempromosikan keunggulan teknologi dan kekuatan Jepang sebagai salah satu Negara maju yang masih mempertahankan budayanya.


100 Mahasiswa terpilih dari Indonesia, berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama 9 hari, yang tergabung dalam program jenesys 2.0 batch 11 media massa. 100 mahasiswa berangkat ke Jepang pada tanggal 23 Februari 2015 sampai tanggal 03 maret 2015. 100 Mahasiswa tersebut kemudian dibagi kedalam 4 grup. Masing-masing grup akan mengunjungi 4 kota yang berbeda di Jepang, yaitu Nara, Hyogo, Okayama, dan Ehime. Pada tanggal 24 Februari 2015, peserta Jenesys 2.0 Indonesia tiba di Tokyo dan melakuakn orientasi, sebelum esok harinya masing-masing grup akan meninggalkan Tokyo dan berangkat ke Nara, Hyogo, Okayama dan Ehime. Sebelum meninggalkan Tokyo pada tanggal 25 Februari 2015, Peserta Jenesys 2.0 Indonesia berkunjung ke National Museum of Emerging Science and Innovation/Miraikan, sebuah museum berkonsep pertukaran ilmu pengetahuan yang dipimpin oleh mantan astronot Jepang, Mori Mamoru. Ruang eksebisi yang terdapat di dalam museum memperkenalkan iptek mutakhir yang dipandang dari luas seperti ruang angkasa, , manusia, manufaktur dan masyarakat informasi. Miraikan memberikan kesempatan kepada para pengunjung unutk berupaya mengenal diri pribadi serta mengeksplorasi dan merealisasikan impian- impian masa depan, diri sendiri dan sesama.

Setelah berkunjung ke Miraikan, grup Nara, Hyogo dan Okayama berangkat ke Stasiun Tokyo menuju ke kota-kota tersebut dengan menggunakan Shinkansen atau Bullet Train, sedangkan grup Ehime menggunakan pesawat. Penulis tergabung ke dalam Grup Nara, dan berangkat dari Stasiun Tokyo menuju Shin Osaka Stasiun. Perjalanan dari Tokyo menuju Osaka dengan Shinkansen membutuhkan waktu 2 jam 30 menit. Setelah tiba di Osaka, perjalanan dilanjutkan ke kota Nara dengan menggunakan bus selama 50 menit.

Kota Nara pernah menjadi ibu kota Jepang, sebelum berpindah ke Kyoto dan Tokyo. Kota Nara juga memiliki 8 aset yang merupakan monument bersejarah yang telah terdaftar sebagai situs warisan dunia. Hari kamis, 26 februari 2015, perjalanan dimulai di kastil Osaka. Sebuah kastil yang dibangun sejak tahun 1583. Kastil Osaka terdaftar sebagai kekayaan budaya berwujud nasional. Kastil ini dikunjungi sekitar 1 Juta-1,3 Juta wisatawan setiap tahun. Setelah menjelajahi kastil, para peserta Jenesys 2.0 mengunjugi sebuah Industri lokal, yaitu Koran Yomiuri-Shimbun di kantor pusat Osaka. Yomiuri Shimbun adalah Koran utama Jepang yang diakui oleh The Guinness Book of Records sebagai perusahaan Koran yang memilki oplah terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Asosiasi ABC Jepang sebagai lembaga audit olah, Koran edisi pagi Yomiuri Shimbun pada bulan November 2013 mencapai oplah sebesar 10 Juta 7,440 eksemplar. Koran Yomiuri Shimbun terbit 2 kali dalam sehari, setiap pagi dan sore. Yomiuri Shimbun memiliki mesin yang berkemampuan mencetak 150 ribu eksemplar per jam.

Sedangkan tempat bersejarah yang dikunjungi di kota Nara adalah kuil Todaiji. Kuil ini dibangun oleh kaisar Shomu pada tahun 743 (era Nara) dengan kekuatan nasional dan patung Buddha utama adalah Rushanabutsu yang dikenal sebagai “Nara no Daibutsu” (Patung Buddha Besar Nara). Kuil Todaiji merupakan sebagian monument bersejarah di kota kuno Nara yang terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO pada tahun 1998. Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan industry media, peserta Jenesys 2.0 juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa di Nara Women University dan Tenri University.

Peserta Jenesys 2.0 juga diberikan kesempatan untuk tinggal di rumah keluarga Jepang dalam program Homestay selama 3 hari 2 malam. Kegiatan Homestay merupakan salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi peserta, karena peserta mendapatkan keluarga baru, belajar budaya jepang secara langsung dan meraskan tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat jepang merupakan pengalaman yang sangat berharga, meskipun sangat singkat. Keluarga Jepang memang sangat ramah dan bersahabat, sehingga memberikan kesan baik yang sangat mendalam bagi peserta Jenesys 2.0.


Kami menemukan bahwa di Jepang, media cetak seperti surat kabar masih menjadi media yang paling diminati,selain itu pemerintah Jepang sangat peduli dengan kaum disable, hal ini dibuktikan dengan fasilitas-fasilitas umum yang memberikan kemudahan bagi kaum disable sehingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan fasilitas umum.

Di akhir program ini, masing-masing grup mempresentasikan temuan mereka selama 8 hari berada di Jepang di depan pejabat JICE (Japan International Cooperation Center), dan perwakilan kedutaan besar Republik Indonesia di Jepang. Setelah itu, setiap kelompok juga mempresentasikan action plan atau kegiatan yang akan dilakukan setelah kembali ke Negara asal yakni melakukan promosi dalam bentuk Post Card dan menyebarkan informasi memlaui tulisan yang disatuka di tumblr. Hal ini dilakukan untuk mempromosikan keunggulan Jepang. (Kartini Bahar, Peserta Jenesys 2.0 Mass Media Batch 11).

 

Program Studi *
Nama Lengkap *
Email *
No. HP *
Alamat Rumah *