fbpx

Rektor Paramadina Sarankan Konsep Kampus Merdeka Diterapkan 15% Hingga 20%

Kampus Merdeka dalam bentuk Merdeka Belajar merupakan antitesis dari pendidikan yang selama ini dianggap hanya berfokus di lingkungan kampus. Hal tersebut diungkapkan Rektor Univesitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini dalam Seminar online bertajuk “Capaian Pembelajaran Berorientasi Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM)” 29 Juli 2021.

Didik, dalam rilis resminya yang diterima KUASAKATACOM, pada Jumat (30/7/2021), mengatakan 30 tahun lalu ia memunculkan buku Pendidikan Kaum Tertindas oleh Paulo Freire. 

“Karena pendidikan yang mengekang di Brazil ternyata dianggap tidak memihak pendidikan yang berkualitas bagi kaum miskin. Sehingga kaum miskin perlu menangani sendiri pendidikan mereka untuk meningkatkan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan situasi saat itu. Kondisi ini melahirkan pedagogy of freedom (pendidikan yang membebaskan),” Katanya. 

Didik juga menyarankan sebaiknya Konsep Kampus Merdeka diterapkan 15%– 20%. “Konsep Kampus Merdeka harus dinilai positif, Merdeka Belajar dipahami dengan baik, yakni merdeka yang tetap memiliki aturan, disiplin danimplementasinya diatur secara proporsional. Karena pendidikan memerlukan kedisiplinan di samping kebebasan.” Ujarnya dalam seminar yang digelar Universitas Paramadina Bekerjasama dengan Asosiasi Program Studi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) wilayah Jabodetabek.

Ketua Umum ASPIKOM, Dr. Muhammad Sulhan menggaris bawahi amanat dari Mendikbud-Ristek memiliki posisi yang signifikan terkait rekomendasi dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dibidang pengetahuan dan keterampilan khusus. 

Sulhan menyinggung bahwa CPL terakhir adalah di tahun 2018, dimasa disruption dan 4.0 belum sehebat hari ini. “Pembentukan dan rekomendasi CPL itu free will kita yang diletakkan sesuai kehendak bebas, ASPIKOMmemberikan ruang bagi seluruh Program Studi di 3 region untuk menciptakan keunikan. Keunikan itu sendiri menjadi landasan aturan yang disampaikan oleh kebijakan negara,“ katanya. 

Ia juga menyatakan bahwa prodi-prodi komunikasi di seluruh indonesia memiliki free will untuk menciptakan keunikan mereka sesuai dengan habitat baik itu. “Tentu konsep free will tadi dengan nuansa berkehendak bebas tadi harus memiliki tanggung jawab kepada seluruh lulusannya. Dengan demikian apa yang sedang dilakukan ASPIKOM adalah menciptakan mekanisme harmonis antara kebebasan untuk menciptakan keunikan dengan tanggungjawab untuk menghasilkan lulusan yang bertanggungjawab dan bermartabat,” katanya dalam seminar yang di moderatori oleh Sandra Olivia, MSi, tersebut.

Sedangkan menurut Ketua Departemen Kurikulum & Pengembangan ASPIKOMSri Hastjarjo, PhD, tantangan yang dihadapi prodi adalah kesenjangan yang terlalu besar. 

“Dari hampir 300 prodi rumpun ilmu komunikasi ada yang sangat besar dan berbeda jauh pemahamannya mengenai MBKM sementara indikator yang dipakai sama, hal ini akan menimbulkan persoalan,” ujarnya.

Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini (kiri).

Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rachbini (kiri).

Rektor Paramadina Sarankan Konsep Kampus Merdeka Diterapkan 15% Hingga 20%

 

Untuk menyiapkan SDM yang terampil, diperlukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan DUDI dan perkembangan teknologi. 

 

Jumat, 30 Juli 2021 | 09:49 WIB - Didaktika
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Jakarta- Kampus Merdeka dalam bentuk Merdeka Belajar merupakan antitesis dari pendidikan yang selama ini dianggap hanya berfokus di lingkungan kampus. Hal tersebut diungkapkan Rektor Univesitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini dalam Seminar online bertajuk “Capaian Pembelajaran Berorientasi Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM)” 29 Juli 2021.

Didik, dalam rilis resminya yang diterima KUASAKATACOM, pada Jumat (30/7/2021), mengatakan 30 tahun lalu ia memunculkan buku Pendidikan Kaum Tertindas oleh Paulo Freire. 

“Karena pendidikan yang mengekang di Brazil ternyata dianggap tidak memihak pendidikan yang berkualitas bagi kaum miskin. Sehingga kaum miskin perlu menangani sendiri pendidikan mereka untuk meningkatkan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan situasi saat itu. Kondisi ini melahirkan pedagogy of freedom (pendidikan yang membebaskan),” Katanya. 

Didik juga menyarankan sebaiknya Konsep Kampus Merdeka diterapkan 15%– 20%. “Konsep Kampus Merdeka harus dinilai positif, Merdeka Belajar dipahami dengan baik, yakni merdeka yang tetap memiliki aturan, disiplin danimplementasinya diatur secara proporsional. Karena pendidikan memerlukan kedisiplinan di samping kebebasan.” Ujarnya dalam seminar yang digelar Universitas Paramadina Bekerjasama dengan Asosiasi Program Studi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) wilayah Jabodetabek.

Ketua Umum ASPIKOM, Dr. Muhammad Sulhan menggaris bawahi amanat dari Mendikbud-Ristek memiliki posisi yang signifikan terkait rekomendasi dari Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dibidang pengetahuan dan keterampilan khusus. 

Sulhan menyinggung bahwa CPL terakhir adalah di tahun 2018, dimasa disruption dan 4.0 belum sehebat hari ini. “Pembentukan dan rekomendasi CPL itu free will kita yang diletakkan sesuai kehendak bebas, ASPIKOMmemberikan ruang bagi seluruh Program Studi di 3 region untuk menciptakan keunikan. Keunikan itu sendiri menjadi landasan aturan yang disampaikan oleh kebijakan negara,“ katanya. 

Ia juga menyatakan bahwa prodi-prodi komunikasi di seluruh indonesia memiliki free will untuk menciptakan keunikan mereka sesuai dengan habitat baik itu. “Tentu konsep free will tadi dengan nuansa berkehendak bebas tadi harus memiliki tanggung jawab kepada seluruh lulusannya. Dengan demikian apa yang sedang dilakukan ASPIKOM adalah menciptakan mekanisme harmonis antara kebebasan untuk menciptakan keunikan dengan tanggungjawab untuk menghasilkan lulusan yang bertanggungjawab dan bermartabat,” katanya dalam seminar yang di moderatori oleh Sandra Olivia, MSi, tersebut.

Sedangkan menurut Ketua Departemen Kurikulum & Pengembangan ASPIKOMSri Hastjarjo, PhD, tantangan yang dihadapi prodi adalah kesenjangan yang terlalu besar. 

“Dari hampir 300 prodi rumpun ilmu komunikasi ada yang sangat besar dan berbeda jauh pemahamannya mengenai MBKM sementara indikator yang dipakai sama, hal ini akan menimbulkan persoalan,” ujarnya.

 

Ia menengarai lebarnya disparitas antar prodi, persepsi yang beragam tentang MBKM dan implementasinya, serta kecepatan untuk merespon dinamika pelaksanaan MBKM terutama dalam reorientasi kurikulum. “MBKM menuntut reorientasi kurikulum yang mendasar, tidak sekedar tambal sulam demi pragmatisme mengisi angka-angka indikator kinerja.” Katanya.

Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi & Profesi Kemendikbudristek, Dr. Beny Bandanadjaya, ST, jumlah mahasiswa dan lembaga pendidikan vokasi negeri dan swasta di Indonesia ikut berkembang jumlahnya sesuai kebijakan pemerintah mengenai pendidikan vokasi. 

“Kita harus terus memperbaiki piramida kualifikasi tenaga kerja kita agar menjadi tenaga kerja yang terlatih, terampil, agar terserap semuanya ke dalam industri-industri kita,” katanya.

Menurut Beny, arahan Presiden Joko Widodo adalah bahwa kita harus meningkatkan kapasitas SDM kita agar lebih produkstif dan lebih kompetitif, dan pendidikan vokasi menempati posisi penting dalam strategi pengembangan SDM. Mengutip pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim, “Optimalisasi keterlibatan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi adalah kunci terwujudnya link and match.” 

Pada kesempatan yang sama Beny juga menyatakan untuk menyiapkan SDM yang terampil, diperlukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan DUDI dan perkembangan teknologi. 

“Fokus pada kurikulum, pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja, jumlah dan peran dosen/instruktur dari industri dan ahli dari Dunia Usaha Dunia Industri Dunia Kerja (DUDIKA), magang atau praktik kerja, sertifikasi kompetensi, dosen dan instruktur update teknologi dan pelatihan, riset terapan mendukung teaching factory/teaching industry, serta komitmen serapan lulusan oleh DUDIKA,” bebernya.

Ketua Departemen Kurikulum ASPIKOM, Dr. Rini Sudarmanti dalam diskusi itu menyatakan penyelenggaraan kegiatan ini didukung oleh dosen dari program studi ilmu komunikasi yang tergabung dalam ASPIKOM wilayah Jabodetabek, seperti IKB LSPR, Universitas Gunadarma, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Satya Negara Indonesia, Universitas Pakuan Bogor, Institut Pertanian Bogor, Universitas Budi Luhur, Institut STIAMI, Politeknik Negeri Jakarta, dan Politeknik Negeri Media Kreatif.

Rini juga menekankan pentingnya acara tersebut. “Seminar secara daring ini dimaksudkan untuk memfasilitasi setiap program studimenyesuaikan orientasi kurikulum pendidikannya dengan kebijakan PerMendikbud No 3 Tahun 2020 tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM),” pungkasnya. 

 

Sumber:

https://kuasakata.com/read/berita/35311-rektor-paramadina-sarankan-konsep-kampus-merdeka-diterapkan-15-hingga-20

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed