Program Studi Psikologi Universitas Paramadina melakukan kunjungan studi sebagai bagian dari Mata Kuliah Psikologi Kepribadian ke Yayasan Jamrud Biru pada tanggal 26 November 2024 dan 30 November 2024. Kegiatan kunjungan studi ini diikuti oleh mahasiswa dari kampus Cipayung dan Cikarang dengan pendampingan oleh para dosen program sarjana (S1) psikologi. Kegiatan kunjungan ini sebagai bentuk penguatan pembelajaran di lapangan untuk mahasiswa dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Mahasiswa dalam hal ini dapat menemu-kenali ODGJ secara langsung baik dalam mengidentifikasi gejala/simptom klinis yang muncul, bagaimana caranya berinteraksi dan menerima kondisi mereka, hingga belajar untuk memberikan keterampilan bagi ODGJ demi kelangsungan hidup mereka yang lebih baik. Dari kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu-ilmu psikologi yang telah dipelajari khususnya yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian. Selain itu, dapat membuka wawasan dan merubah stigma mereka terhadap ODGJ selama ini.
Kegiatan kunjungan studi ini dilaksanakan dengan pembagian Mahasiswa kedalam 11 kelompok, di mana 1 kelompok terdiri dari 6 orang. Dalam 1 kelompok terdapat 3 pasien yang akan diwawancara dan 3 perawat pendamping. Kemudian untuk batch 2 mahasiswa yang hadir sebanyak 54 mahasiswa dan 3 dosen pendamping. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok 9 kelompok, di mana 1 kelompok terdiri dari 6 orang. Dalam 1 kelompok terdapat 3 pasien yang akan diwawancara dan 3 perawat pendamping. Untuk kedua batch, kegiatan intake data dilakukan di 3 lokasi yaitu di dalam Yayasan, kedai, dan empang. Di mana lokasi-lokasi tersebut merupakan tempat yang biasanya dilakukan oleh pihak Yayasan untuk para pasien berkegiatan sehari-hari. Wawancara dilakukan maksimal 90 menit untuk seluruh mahasiswa dengan pasien.
Menurut Bapak Suhartono sebagai pendiri, arti nama Jamrud Biru, adalah permata yang luas. Ia ingin setiap pasien yang telah berhasil diobati di Yayasan Jamrud Biru dapat kembali ke masyarakat dan bisa berguna bagi orang banyak. Pada panti ini, masing-masing pasiennya memiliki latar belakang penyebab gangguan jiwa yang berbeda mulai dari Calon Anggota Legislatif (Caleg) gagal, mantan narapidana, hingga pelajar korban bullying tercatat sebagai pasiennya dan masih dalam proses penyembuhan.
Terdapat sebanyak 25 orang karyawan dan perawat di mana mereka bukan berasal dari tenaga profesional melainkan diajari merawat pasien secara otodidak saja. Hal ini pun menjadi suatu tantangan yang sangat berat untuk para perawat karena masih dirasa membutuhkan ilmu atau keterampilan lainnya yang mendukung untuk merawat pada ODGJ ini. Kegiatan pembinaan pasien setiap hari diisi dengan senam pagi, menyanyikan lagu wajib, membaca ayat suci Al-Quran, lalu masuk ke sore hari membaca iqro, terapi daya ingat hingga berdoa bersama. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara rutin dan diikuti seluruh pasien gangguan jiwa.