Senin, 9 Maret 2026, Fakultas Ilmu Rekayasa (FIR) Universitas Paramadina menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum Fakultas Ilmu Rekayasa 2026 secara daring dengan tiga orang narasumber yang mewakili industri, alumni, serta akademisi nasional dan internasional, Dr. Dendi Pratama, Rektor MNC University, alumni FIR, Fauzal Atmodirono, S.Kom sebagai Alumnus FIR & (CTO) Devoteam Indonesia – Google Cloud Business Unit, dan Deaa Bataineh, Ph.D, dosen dan Wakil Direktur Center of Excellence and Innovation Jordan University of Science and Technology (JUST).
“Fakultas Ilmu Rekayasa Universitas Paramadina ini unik, karena terdiri dari Program Studi Desain yaitu Desain Produk dan Desain Komunikasi Visual, serta Teknik Informatika, di mana biasanya Prodi Desain ada di bawah Fakultas Senirupa dan Desain. Berdasar pada keunikan ini dan mengantisipasi kebutuhan industri saat ini dan masa depan serta perkembangan teknologi IoT dan AI, pengembangan Kurikulum 2026 akan mendorong kolaborasi tiga Prodi untuk menghasilkan produk dan karya inovatif seperti misalnya smart product karya Prodi Desain Produk kolaborasi dengan Prodi Teknik Informatika, dan Prodi Desain Komunikasi Visual akan memastikan pengalaman visual pengguna dan branding produk,” disampaikan Hendriana Werdhaningsih, Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Rekayasa dalam pembukaan lokakarya.
“Pengembangan Kurikulum 2026 yang mengedepankan kolaborasi lintas produk dan berbasis proyek atau project-based learning ini masuk ke ekosistem kekinian yang dibutuhkan di dunia teknologi sekarang. Ini serupa dengan model di MIT Media Lab dan Stanford Design School,” ujar Dr. Dendi mengomentari konsep kurikulum baru FIR.
(CTO) Devoteam Indonesia yang merupakan alumni Prodi Teknik Informatika FIR, Universitas Paramadina menegaskan bahwa Mata Kuliah Komputasi Awan menjadi salah satu mata kuliah dasar yang sesuai dengan pekerjaan sebagai Google Cloud Business Unit. “Selain kemampuan teknis, mahasiswa harus menguasai mind map dan keterampilan merancang business model karena dua hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh AI,” ujar Fauzal.
Deaa Bataineh, Ph.D, narasumber internasional pada Lokakarya ini menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan navigasi kompleksitas. “Mahasiswa perlu melakukan lebih dari sekadar menyelesaikan masalah, mereka harus memahami bagaimana desain serta teknologi mempengaruhi masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian agar dapat bertindak secara bertanggung jawab dalam sistem yang lebih besar.”