fbpx

Acara yudisum kali ini terasa berbeda. Di tengah situasi pandemi Covid 19, acara pelepasan wisudawan yang biasanya dilakukan secara tatap muka, kini diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi zoom pada Senin 19 Oktober 2020. Sebanyak 47 wisudawan dinyatakan lulus dan berhak mendapat gelar sebagai sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.K) dan ikut serta dalam penyelenggaraan acara yudisium ini. Perwakilan wisudawan, Hilyatul Aulia (mahasiswa reguler Sabtu) menyatakan keharuannya bisa lulus dan mendapat gelar sebagai sarjana Ilmu Komunikasi. Ia juga menyampaikan kesan tentang kuliah di Paramadina yang memiliki fleksibiltas bagi mahasiswa bekerja yang dapat kuliah tanpa harus terganggu dengan waktu kerjanya. Berbeda dengan Hilya, perwakilan wisudawan mahasiswa reguler pagi, Asep Aji, menyatakan tentang pentingnya menjaga nama baik Paramadina meskipun sudah dinyatakan lulus. Di akhir acara, Prodi Ikom menyerahkan penghargaan kepada wisudawan Hasya Petranto sebagai wisudawan terbaik Program Studi Ilmu Komunikasi dengan predikat pujian magna cum laude. 

Memperingati hari Batik Nasional 2020, KOMIK (Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi) Paramadina menyelenggarakan seminar daring bertema "Batikku Indonesiaku!" pada Selasa 6 Oktober 2020. Acara ini sekaligus menjadi ajang pertemuan reuni antar alumni Ikom, dimana kehadiran Rindu Melati Pradnyasmita (alumni 2002) dan Riky Okianto (alumni 2013) bertemu membahas batik dari perspektif yang berbeda. Rindu menyoroti tentang pentingnya melestarikan batik dan mempopulerkan batik Indonesia sebagai warisan budaya tanah air ke tingkat internasional. Alumni yang saat ini menjabat sebagai Senior Marketing Iwan Tirta ini juga menceritakan berbagai pengalamannya dalam mempromosikan batik sebagai pakaian yang memiliki nilai estetika tinggi dan dapat bersaing dengan trend fashion saat ini. 

Berbeda dengan Rindu, Riky Okianto atau yang akarab disapa Oki memfokuskan pada pengalamannya saat menjadi Putra Batik Nusantara tahun 2019, dimana dia dipercaya untuk mempromosikan warisan budaya bangsa ini agar batik dapat diterima oleh anak muda. Dia juga mengenalkan bahwa desain batik saat ini tidak kalah saing dengan desain pakaian anak muda, dengan tampilan warna-warna mencolok dan desain yang unik khas anak muda. 

Di penghujung acara, dosen Ilmu Komunikasi Ibu Leonita K. Syarief, M.Si memberikan tanggapan pada seminar ini dari sudut komunikasi. Batik selain sebagai warisan budaya bangsa juga dapat menciptakan branding yang positif bagi pemakainya. 

 

Jakarta, 6 Oktober 2020

Prodi Ikom

Dalam pandangan penganut aliran kritis, tidak dikenal media massa yang independent dari semua intervensi kepentingan praksis maupun ideologis (positif maupun negatif). Media massa dalam setiap pemberitaannya, bukan hanya manifestasi dari perhatian media massa tersebut terhadap lingkungan sekitarnya, tetapi juga menyiratkan adanya keterkaitan atas dasar simbiosis mutualisme yang terjalin antara media massa dengan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendapat keuntungan dari pemberitaan tersebut.

 

 

 

Untuk melihat keberpihakan media massa dalam memberitakan sebuah peristiwa maupun pendapat, dapat diketahui dengan metode analisis wacana (discourse analysis-DA), yang menurut James Paul Gee dalam buku An introduction to Discourse analysis, Theory and Methode, penggunaannya tidak cukup menanggalkan ciri-ciri kuantitatif dari analisis isi, tetapi juga memusatkan diri pada bagaimana bahasa yang digunakan untuk memerankan kegiatan, pandangan, dan identitas.

 

 

 

Melihat kembali sejarah terbitnya pers di negeri ini-dalam pandangan kritis-, kita akan melihat dua sikap yaitu supremasi penguasa dan pengusaha atau orientasi rakyat jelata, yang diambil (atau mungkin juga terpaksa diambil) oleh setiap insan pers pada setiap masanya untuk dapat bertahan dan menyebarkan ideologinya kepada masyarakat.

 

 

 

Awal masuknya pers di Indonesia terjadi pada tahun 1712, namun pemerintah VOC melarangnya, karena khawatir saingan VOC akan memperoleh keuntungan dari berita dagang yang dimuat di koran itu. 32 tahun kemudian terbit koran dengan nama Bataviase Nouvelles, namun itupun hanya bertahan dua tahun karena dilarang kembali oleh Belanda dengan alasan, pemberitaannya membahayakan Belanda. Intervensi media massa pada saat itu sangat ketat sampai abad ke-20.

 

 

 

Awal abad 20, pers mulai dijadikan sebagai alat perjuangan oleh sejumlah organisasi politik (boedi oetomo, SI,Indische Partji, PKI, PNI,…) yang pada pada saat itu menjadi wadah untuk menyuarakan gagasan-gagasannya, sedangkan Pada masa penjajahan Jepang, penguasa militer Jepang menempatkan shidooin (penasihat) di bagian redaksi dalam setiap surat kabar dengan tujuan untuk mengontrol media secara langsung. Pada tahun 1960 pemerintah menetapkan 19 pasal yang mengatur mengenai penerbitan yang secara keseluruhan bersifat kewajiban pers untuk mendukung politik pemerintah.

 

 

 

Tonggak politis yang pertama dari penguasa orde baru mengenai pers adalah UU pokok pers No.11/66 jo UU No.4/1967,namun prakteknya sangat berbeda dengan yang tertulis di peraturan tesebut, karena pertimbangan politik pemerintah pada saat itu lebih besar daripada pertimbangan perundangan. Dalam UU pokok pers dinyatakan bahwa pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan, namun pasca peristiwa malari 1978 tujuh surat kabar ibukota dibredel. Kejadian itu juga yang menjadi awal pemusatan kekuasaan ditangan segelintir elit (rezim Soeharto) yang menjangkau semua sektor kehidupan termasuk media massa di dalamnya.

 

 

 

Pasca jatuhnya rezim ORBA pada tahun 1998 dan dikeluarkannya UU No.40/1999, ratusan surat kabat terbit tanpa SUPP setelah keharusan itu dicabut oleh menpen yang pada saat itu dijabat oleh Yusuf Yosfiah. Pers kini lebih sering menjadi ”broker” yang menyuarakan kepentingan penguasa dan pengusaha yang memiliki modal, pun demikian dengan para penguasa dan pengusaha tersebut, mereka bisa membuat media yang akan mendukung kesuksesan menuju yang mereka inginkan. Kebijakan itu juga yang pada akhirnya memberikan alasan kuat bagi lahirnya pers industri yang berorientasi pemodal dan menggeser pers idealis yang berorientasi rakyat jelata.

Sumber : http://jurnalkomunikasi.com/?p=229#more-229

Fotografi merupakan aktivitas yang sangat diminati oleh berbagai kalangan, terutama kalangan milenial. Fotografi merupakan metode atau teknik pengambilan gambar melalui kamera. Talkshow fotografi menjadi salah satu jembatan bagi berbagai kalangan khususnya kaum milenial untuk mengetahui tentang dunia fotografi. Seperti talkshow fotografi yang diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina bekerjasama dengan mahasiswa-mahasiswi kelas Fotografi dan Teknik Kamera pada tanggal 16 januari 2020 di Universitas Paramadina 

Acara talkshow bertemakan “Enjoy Jakarta” ini diisi oleh seorang jurnalis dan fotografer perjalanan, Maryssa Tunjung Sari. “Seorang fotografer dituntut tidak hanya bisa mengambil foto, namun juga menulis, sama halnya dengan jurnalis, tidak hanya bisa menulis namun juga sebaiknya dapat mengambil foto” Ujar Maryssa dalam sesi talkshow tersebut. 

Selain talkshow, di sini juga terdapat pameran fotografi dimana peserta dari pameran ini adalah mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina. Berbagai Jenis foto yang telah diambil merupakan foto – foto seputar lingkungan Jakarta, sesuai dengan tema yang diambil dalam ajang pameran yaitu “Enjoy Jakarta”. Foto – foto tersebut kemudian dipamerkan di Lingkungan Universitas Paramadina. 

Berikut ini adalah beberapa kategori pemenang dalam pameran fotografi “Enjoy Jakarta”  yaitu :

1. Kategori Foto Terbaik yang dimenangkan oleh Tasya Putri Kusumawardani.

2. Kategori Foto Terfavorit yang dimenangkan oleh Ujang Samsul Falah.

3. Kategori  Video Terbaik yang dimenangkan oleh kelompok yang beranggotakan :

● Pranya Avilla

● Rania Octaviani

● Dephanny Rizkita

● Alifa Firanovia

 

Kegiatan talkshow dan pameran fotografi ini merupakan wadah untuk mempelajari ilmu fotografi baik dari perspektif sains dan industri. Hal ini sangat bermanfaat khususnya bagi mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dalam mengembangkan wawasan dan bakat mereka. Sehingga mahasiswa memiliki bekal yang mumpuni untuk terjun dalam industri fotografi pasca kehidupan kampus. 

 

Penulis : Rahelia Dita Kirana

Penyunting : Faris Budiman Annas

 

oleh : Dr. Rini Sudarmanti-Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi


Kita tentu sering melihat sejumlah semut mengerubungi sisa-sisa makanan lalu dibawa ke dalam sarangnya. Semut hanyalah binatang kecil yang dirasakan mengganggu. Setiap ada makanan tercecer, terutama yang mengandung gula, tentu semut akan selalu ditemukan berada di sana.

Namun, pernahkan Anda berpikir, mengapa semut itu dapat menentukan mana sisa makanan yang dapat bersama-sama diangkut dalam waktu singkat dan mana yang tidak? Mengapa semut dapat membedakan mana yang ia mampu panggul sendiri di bahunya dan mana yang dia tidak dapat panggul selain bersama-sama dengan teman-temannya?

Semut pun menganut prinsip-prinsip memimpin. Semut akan memilih untuk bekerja bersama-sama dan tidak mengutamakan individualismenya. Bila ia tidak mampu mengarahkan teman-temannya, tentu ia tidak akan pernah berhasil untuk mengangkut bongkahan besar sisa-sisa makanan yang akan disantap di dalam sarangnya.

 

Seni kepemimpinan semut

 

Pemimpin sulit memperoleh kesuksesan bila dilakukan tanpa memedulikan orang-orang yang dipimpinnya. Memimpin memerlukan kemampuan untuk mampu segera menentukan mana yang terbaik dilakukan untuk semua anggota kelompok, yaitu orang-orang yang menyandarkan dirinya pada kemampuan si pemimpin untuk mengatur kehidupan mereka. Menjadi pemimpin memerlukan kemampuan untuk merasakan "ruh" yang ada di dalam kelompoknya tersebut.

Ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa binatang tidak memiliki otak untuk berlogika. Seekor semut pun kemungkinan besar tidak menggunakan logika untuk memimpin koloninya. Kita tidak dapat memastikannya, karena tentu saja manusia bukan semut.

Namun, bila dilihat dari perilakunya, seekor semut akan menyebarkan "ruh" kebersamaannya semut-semut lain yang berada dalam satu koloni dengannya. Anehnya dia tidak pernah salah membedakannya. Tidak pernah ada semut yang salah bekerja sama dengan semut dari koloni lain untuk mengangkut makanan.

Inilah yang patut kita contoh. Kita adalah manusia berakal yang mampu berlogika serta berpikir lebih kreatif dari seekor semut. Seorang manusia pemimpin seyogianya tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikirnya saja, tetapi juga mampu menemukan "rasa bersama" "rasa" sepenanggungan, "rasa" saling memiliki, "rasa" empati dan sejuta "rasa" lainnya sehingga semua anggota yang dipimpinnya secara sukarela tergerak untuk melakukan kegiatan secara bersama.

 

Komunikasikan "rasa"

 

Memimpin bukanlah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Semua manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Memimpin memerlukan kecerdasan yang paling tinggi yaitu intuitif atau menggunakan kecerdasan hati.

Namun sebelum memimpin orang lain, dia akan dituntut terlebih dahulu untuk memimpin dirinya sendiri. Sejauh mana dia mampu memimpin dirinya akan tecermin dari bagaimana dia mampu mengarahkan dirinya untuk mencapai tujuan harapannya.

Pancaran kepemimpinannya ini akan dirasakan oleh sekitarnya sehingga akan menggerakkan perasaan orang lain untuk bersama-sama mencapai tujuan bersama.

Namun, perlu digarisbawahi terlebih dahulu bahwa "rasa" berbeda dengan "emosi". Kata emosi berasal dari bahasa latin emovere yang artinya setara dengan to move. Sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Perasaan tidaklah sama dengan rasa.

Jensen menjelaskan dalam bukunya Brain Based Learning (Jensen; 2000,202) bahwa emosi merupakan hal yang secara biologis telah ada dalam diri kita sebagai reaksi dari hubungan manusia antarbudaya atau hubungan sosial antar manusia.

Emosi terjadi lebih disebabkan oleh hubungan antarmanusia. Tipikal emosi antara lain gembira, takut, jijik, marah, kesal, dan sedih. Yang namanya emosi memang biasanya timbul dari hasil penangkapan indrawi manusia.

Melihat catatan demi catatan prestasi perolehan laba yang diperoleh suatu divisi yang ditampilkan secara jelas dan lengkap, tentu sangat menggembirakan. Kegembiraan yang meluap-luap ditumpahkan dalam teriakan-teriakan kesuksesan.

Seorang pemimpin yang baik akan sensitif untuk menangkap sinyal bahwa akan ada perasaan yang mengikuti emosi tersebut. Perasaan setia atau loyal karyawan karena keberhasilannya diapresiasi terhadap lembaga tentu akan timbul sebagai reaksi dari kebanggaannya.

Namun, kepekaan perlu diperlebar dengan menangkap sinyal-sinyal perasaan lain yang mungkin terjadi sebagai reaksi terhadap situasi dan kondisi tersebut seperti cemas, antipati, frustasi, sinis, dan optimistis atau seperti insting.

Kita dapat merasakan kecemasan, optimistis ataupun pesimisme yang dialami orang lain sebagai kesimpulan dari interpretasi kita tentang suatu keadaan. Suatu keberhasilan penjualan yang diperoleh oleh seorang anggota divisi marketing dapat saja menimbulkan perasaan iri, sinisme dari anggota lainnya yang belum mampu mencapainya.

Sinisme terhadap insentif yang diberikan atas prestasi yang diperoleh menuai pergunjingan yang diinterpretasikan kurang mengenakkan. Perasaan cemas timbul sebagai akibat tidak memperoleh reward sebagaimana yang dicapai orang lain.

Persoalan emosi dan perasaan ini menjadi penting untuk dipertimbangkan dan diantisipasi karena akan memengaruhi "perasaan bersama" yang semestinya dibangun dalam suatu kelompok seperti halnya keluarga koloni semut.

Manakah yang harus terlebih dahulu diutamakan ketika memimpin? Perasaan ataukah emosi? Tampaknya sulit untuk dibedakan karena keduanya saling mengisi dan tak terpisahkan. Namun, yang terpenting di sini adalah bagaimana seorang pemimpin mampu mengomunikasikan perasaan dan emosinya itu. Kepemimpinan tidak mungkin terjadi tanpa komunikasi efektif.

Setiap jenis kepemimpinan akan selalu bergantung pada kekuatan komunikasi. Seorang pemimpin menyampaikan visi, insipirasi, dan memotivasi bawahannya menuju tujuan harapan yang ditetapkan tidak mungkin terjadi tanpa komunikasi.

Para pemimpin perlu membangun iklim komunikasi terbuka, mendengarkan secara aktif, mampu menangkap apa yang ada di balik pesan, melakukan dialog, memfasilitasi, dan melakukan percakapan strategis untuk menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya agar mampu bekerja dengan lebih baik lagi melalui gerakan solidaritas "rasa bersama".

Seorang pemimpin, menghendaki adanya kemampuan untuk mengonstruksi dan mempertahankan keteraturan dan ketertiban sosial. Seorang pemimpin hendaknya dapat mengetahui dan memahami lingkungan sekaligus menginterpretasinya.

Pengalaman juga memegang peranan penting di sini. Kepemimpinan terbentuk seperti spiral of experience. Memimpin berawal dari bagaimana dia mampu mempersepsi apa yang diindranya melalui observasi.

Kemudian dari apa yang diindranya ini, ia merefleksikan dalam persepsinya sehingga menentukan tindakan yang diambil. Refleksi dari keberhasilan tindakan yang dilakukan menjadi dasar pengalaman untuk pengambilan tindakan atau keputusan-keputusan selanjutnya.

Semakin sering kita melatihnya maka kemampuan kepemimpinan kita akan semakin terasah. Untuk itu diperlukan pengerahan seperangkat semua kemampuan yang Tuhan berikan untuk kita.

Semakin pandai memimpin semakin banyak hal yang dapat kita raih dalam kehidupan. Seperti semut, meskipun dia melaju sendirian mendekati objek sisa makanan yang cukup besar, dia tetap berhasil mengumpulkan sisa-sisa makanan yang tidak mungkin diusungnya sendiri dengan memanggil dan mengerahkan koloninya untuk bersama-sama bekerja bergotong royong mengangkutnya.

Suatu beban pekerjaan yang berat, dengan kemampuannya memimpin, dia tetap akan mampu mengerahkan sumber daya yang ada untuk mencapai harapan dan tujuan demi kepentingan bersama.

Artikel ini dimuat pada Edisi Minggu Bisnis Indonesia, Edisi 148-1 November 2009-
URL: http://web.bisnis.com/kolom/2id2617.html

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed