fbpx
Previous Next

WEBINAR RELATIONSHIP OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER (ROCD) Real vs Ideal Love (Ketika Eskpektasi pada Pasangan Tak Sesuai Kenyataan)

Mengalami beberapa hal ketidakcocokan dan pandangan terhadap pasangan dianggap sebuah fitur alami dari hubungan intim. Namun faktanya, ada beberapa pasangan yang pada akhirnya berkonflik atau mengalami masalah yang berkepanjangan hanya karena tidak bisa menyatukan berbagai perbedaan atau ketidakcocokan tersebut (ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan pasangan). Konflik yang terus menerus akibat dari kekhawatiran dan kegelisahan dalam membina hubungan dengan pasangan ini bisa menjadi obsesif dan kompulsif yang mengarah pada disfungsi dan distress, sehingga individu mulai memunculkan suatu keraguan dan ketakutan mengenai hubungan romantis; Apakah partner adalah pilihan terbaik? Apakah ia sungguh-sungguh mencintai kita? Apakah hubungan yang dijalin merupakan keputusan yang tepat? dan sebagainya. Berulang kali dipikirkan, dirasakan, dilakukan pengecekan, bahkan sampai mencari dukungan pada orang lain, hal ini tentunya akan melemahkan inti hubungan dan membuat hubungan yang dijalin menjadi tidak stabil yang bisa mengarah pada munculnya simtom gangguan yang disebut sebagai Relationship obsessive-compulsive disorder (ROCD) (Kabiri, Mitra., Hamid Taher Neshat-Doost., Hossein Ali Mehrabi, 2017).

ROCD adalah gangguan yang seringkali melibatkan adanya keraguan tentang emosi yang dimiliki terhadap pasangannya, keraguan tentang perasaan yang dimiliki pasangannya terhadap dirinya, begitu juga dengan istilah dari "kebenaran" dari hubungan tersebut. Juga, melibatkan adanya obsesi yang terfokus pada pasangan secara deficit. Dalam ROCD ini terdapat 2 tipe yang secara symptomatic harus terpenuhi untuk pendiagnosaan kondisi individu, yaitu a) Partner-focused; dan b) Relationship-centered. Kedua tipe ini dapat terjadi pada saat yang sama dan terkadang bahkan dapat saling menguatkan, sehingga membuat siklus obsesi-kompulsif semakin kuat dan kecemasan mengenai hubungan/pasangan pun semakin parah. Orang dengan ROCD menganggap pikiran mengganggu mereka sebagai bukti bahwa ada yang salah dalam hubungan yang dijalin. Di situasi ini, pemikiran ini dapat meningkatkan kemungkinan keraguan tentang "kebenaran" dari hubungan dan tentang emosi yang dimiliki tentang pasangan. Bahkan, ROCD dianggap sebagai jenis OCD yang dibesar-besarkan, tidak didasarkan pada kenyataan, dan bertentangan dengan perasaan individu yang sebenarnya tentang pasangannya (Doron, G., Derby, D., & Szepsenwol. O, 2014). Dengan kata lain, perilaku kompulsif yang mengurangi kecemasan itu terjadi setelah obsesi, seiring waktu, mengarah pada kelanjutan dan keparahan dari siklus obsesi tersebut.

Dalam hal ini Dosen Tetap Program Studi Psikologi Universitas Paramadina yaitu Ibu Dinar Saputra, M.Psi, Psikolog bekerja sama dengan konsultan psikologi Vajra Cipta Nirvana melakukan kegiatan seminar daring (webinar) yang dibuka untuk umum. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2021 pukul 14.00-16.00. Tujuan kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi positif untuk masyarakat luas dengan memberikan edukasi psikologis berkaitan dengan siklus obsesi-kompulsif yang dapat memunculkan simtom ROCD.

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed