fbpx

Berpuasa dan Kesadaran Diri

Oleh: M Subhi-Ibrahim*

Dalam puasa, manusia menghindarkan diri dari MMS (makan, minum, seks), berbagai hiburan dan segala yang memanjakan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Menariknya, manusia berpuasa sebagai sesuatu “yang disengaja” dilakukan secara “merdeka". Karena itu, rukun pertama puasa adalah niat. “Aku niat berpuasa,” begitu kalimat yang diucapkan menjelang puasa. Tindakan menyengaja berpuasa ini khas manusia.

Sebetulnya, manusia mempunyai naluri mempertahankan diri. Naluri mempertahankan diri “melekat” pada diri manusia, bukan sekadar “menumpang”. Karenanya, naluri ini bersifat kodrati. Kecenderungan untuk makan dan minum adalah salah satu unsur penting naluri mempertahankan diri. Pada dasarnya, naluri makan dan minum merupakan naluri untuk “menyatukan diri” dengan barang-barang jasmani untuk mempertahankan diri.

Kecenderungan naluriah tersebut membuat manusia selalu “bersama dengan” barang-barang jasmani. Dengan berpuasa, manusia memutus hubungan dalam waktu-waktu tertentu. Memutuskan total adalah mustahil. Hanya waktu-waktu tertentu saja! Itulah pengambilan jarak. Manusia membuat jarak terhadap alam jasmani, terhadap makan dan minum. Bahkan, manusia membuat jarak terhadap kejasmaniaannya sendiri. Betul bahwa setiap orang mengalami nalurinya, kecenderungan kodratinya, tetapi dia mampu membedakan atau seakan-akan memisahkan dirinya, pribadinya dari kecenderungannya itu.

Dalam gejala manusia berpuasa tampak bahwa dirinya tidak ditentukan oleh alam jasmaninya. Kejasmaniaan, sebagai unsur kodrati, tidak mampu memaksa. Di sini manusia tampil sebagai subjek yang otonom terhadap alam jasmani dan terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk jasmani. Dengan berpuasa, manusia sadar akan dirinya, kepribadiannya, dan kemerdekaannya.

Seperti telah dikemukakan di atas, puasa merupakan pengambil-jarakkan, transendensi bukan hanya dari tubuh, tetapi juga dari jiwa. Kebutuhan dasar tubuh (makan, minum, seks) bukan dimatikan, tetapi ditunda pemenuhannya. Proses penundaan ini seharusnya memproduksi kesadaran: aku bukan tubuh ini. Aku tak identik dengan tubuh. Buktinya, aku bisa berjarak dengan tubuhku sedemikian rupa. Aku secara sadar melaparkan diri, menghauskan diri. Aku tidak secara total terdeterminasi oleh tubuh. Tubuh hanya salah satu faktor dalam cara mengadaku di dunia ini.

Nah, bukan hanya tubuh yang diambil-jaraki, jiwa juga. Kita mengenal jiwa melalui gejala-gejalanya yang lahir dari daya-daya jiwa yang, diwakili oleh daya berpikir. Dalam puasa, kita mengambil jarak dari gejala berpikir. Dalam keseharian, kita begitu dikontrol, dikendalikan oleh pikiran kita. Saking tenggelamnya kita dalam lapis kedua eksistensi manusia ini, kita beranggapan: aku adalah pikiran. Kita diombang-ambingkan oleh pikiran yang menyeret kita ke masa lalu, ke masa depan, ditekan oleh target-target, rencana-rencana yang sesungguhnya diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Kita pun terhuyung-huyung, mudah stres, bahkan depresi. Penyebabnya, bukan sesuatu yang di luar diri kita, tetapi karena kita tak mampu mengendalikan pikiran kita sendiri.

Pikiran adalah anak kandung jiwa yang kemudian menjajah jiwa, diri kita. Puasa tak mengajarkan anti-pikiran, tetapi melampaui pikiran. Pikiran penting untuk menata kesemerawutan informasi yang hadir di hadapan kesadaran, memetakan persoalan hidup, dan seterusnya. Namun, hati-hati, pikiran juga bisa jadi penjajah diri kita.

Dengan puasa, kita ditarik, mengambil jarak dari pikiran kita. Merasakan hening sejenak dan perhatikan apa yang hadir dalam pikiran kita. Sekali lagi, apa yang berseliweran dalam pikiran kita: ide, bayangan dan sebagainya. Apakah semua yang hadir itu telah tunduk pada titah Ilahi. Atau masih liar, usil, tak terkendali, bahkan mengendalikan kita?

Pikiran itulah yang memprovikasi kita dengan segala bentuk keinginan-keinginan. Buang! Buang saja! Lampaui pikiran. Aku bukan pikiran. Pikiran (jiwa) hanya salah satu elemen pembentuk cara mengadaku. Apabila kita telah melampaui ketubuhan dan kejiwaan, maka kita akan memasuki satu keadaan: hening. Puasa melahirkan keheningan. Dalam keheningan lahir kejernihan. Saat itulah, kita menatap diri sendiri dengan jernih, dan sekaligus menyadari secara penuh siapakah aku ini sebenarnya. Kesadaran diri, itulah titik penentuan perjalanan hidup seseorang.

Wallahualam bissawab.

*Ketua Program Studi Islam Madani Universitasa Paramadina Jakarta

 

sumber:

https://www.beritasatu.com/nasional/760021/berpuasa-dan-kesadaran-diri 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed