fbpx

Bulan Cinta

Oleh: Aan Rukmana*

 

Setiap melewati bulan puasa, bagi kaum arif bijaksana yang senantiasa melihat apa pun dari kacamata Allah yang menciptakan akan dipahami sebagai bulan cinta dan kasih sayang. Betapa tidak, atas rahman dan rahim Allah, umat Islam diberikan suatu momen sakral dan spesial untuk dapat merasakan kehadiran Allah langsung melalui pelaksanaan puasa. Melalui pengalaman spiritual ini, umat Islam diajarkan untuk “merasa” hal-hal yang sebelumnya sering dipahami hanya melalui logika semata, padahal apa-apa yang berasal dari logika belum tentu dapat kita rasakan. Persoalan “rasa” adalah pesan penting yang sedang Allah sampaikan kepada umat Islam selama satu bulan penuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat mudah kita jumpai berbagai keputusan yang bersumber dari logika induktif maupun deduktif tanpa memperhatikan dimensi rasa di dalamnya. Tidak heran jika kemudian kita memasuki fase kehidupan yang sangat rasional, logis akan tetapi kering dari kedamaian dan ketenteraman. Kehidupan pun berjalan terus dalam putaran waktu yang jauh dari hal-hal mendalam. Peradaban kita pun sukses dari sisi materi, tetapi miskin dari sisi spiritual. Tidak heran jika kemudian berbagai krisis kemanusiaan pun lahir sebagai akibat manusia meninggalkan dimensi rasa yang berpusat dalam hatinya.

Hati dalam tradisi Islam merupakan pusat segala aktivitas manusia. Di sanalah terletak dimensi roh manusia yang berisikan cinta. Melalui cinta inilah sesungguhnya peradaban manusia yang luhur dapat lahir. Cintalah yang menyatukan perbedaan-perbedaan, berbagai konflik serta mengatasi perpisahan (separation).

Kita masih ingat bagaimana seorang bayi yang selama sembilan bulan berada di dalam rahim ibunya. Istilah rahim diambil dari bahasa Arab yang berarti kasih sayang. Jadi alam rahim merupakan alam kasih sayang di mana sejak kita masih berbentuk janin sudah terbiasa merasakannya. Ini juga yang membuat bayi menangis keras ketika pertama kali lahir karena ia harus merasakan perpisahan secara eksistensial dengan alam rahim yang penuh cinta kasih. Ia pun kembali diam saat menyusu kepada ibunya. Dalam proses menyusu tersebut, sang bayi terhubung kembali dengan alam primordialnya, kampung halaman sejatinya di alam rahim.

Pengalaman semasa di alam rahim inilah yang terus terekam di dalam hati manusia. Selama manusia terus menjaga ingatan atas pengalaman tersebut, ia akan dapat menjalani hidup dengan baik karena sesuai dengan fitrahnya. Akan tetapi jika pengalaman tersebut dipadamkan, maka manusia dapat memasuki kehidupan yang penuh penderitaan dan menngarah kepada kesesatan.

Bulan puasa adalah kasih sayang Allah untuk umat Islam agar dapat terus terjaga ingatannya akan alam penuh kasih sayang tersebut. Kita diminta untuk tidak makan dan minum di siang hari serta hal-hal yang membatalkan puasa agar dapat merasakan dimensi batin dari diri kita sendiri. Inilah alam yang mengajarkan kita penyatuan dengan yang hakiki.

Di dalam tradisi Islam terdapat suatu panggilan unik bagi yang meninggal dunia, yaitu almarhum. Istilah almarhum sendiri merupakan satu akar dengan rahim, yang artinya seseorang yang disayangi. Betapa indahnya manusia lahir dari alam rahim dan meninggal menjadi almarhum. Kita berasal dari cinta dan kembali lagi kepada cinta. Inilah hakikat kesejatian kita sebagai manusia.

Di penghujung bulan puasa ini, kita semua sempat shock dan kesal ketika terjadi kekerasan di tanah Palestina yang diinisiasi oleh para tentara Israel. Keributan antarkelompok karena berbagai kepentingan sesaat, termasuk berbagai peristiwa pembunuhan karena perasaan sakit hati.

Dalam menyikapi peradaban seperti yang kita saksikan saat ini, tidak ada pilihan lain kecuali terus istikamah menyebarkan pesan cinta dan perdamaian sebagaimana Allah latihkan selama puasa ini. Tidak ada alasan bagi kita untuk menundanya. Bahkan indikator sukses tidaknya kita berpuasa dapat diukur sejauh mana cinta dapat kita rasakan dan dengannya kita pun berbagi cinta dengan umat lainnya, baik sesama masyarakat Islam maupun kelompok-kelompok agama lainnya di atas muka bumi ini.

Inilah pesan yang paling otentik dari pelaksanaan ibadah Ramadan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kemampuan untuk terus menumbuhkan cinta sehingga peradaban umat manusia menjadi jauh lebih baik lagi karena didorong persatuan bukan perpisahan.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

Sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadan/771999/bulan-cinta

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed