Universitas Paramadina dan Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, mengundang Bapak/Ibu dalam agenda Foreign Policy Circle’s Talk:” South-South Cooperation: Its Continued Significance and Future Challenges”

 

Opening Remarks

1. Dr. Yayan Ganda Hayat Mulyana (Head of Foreign Policy Strategy Agency, Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia)

2. Dr. Handi R. Idris (wakil Rektor Universitas Paramadina)

 

Presentations and Discussion

1. Mrs. Yuefen Li, Senior Advisor on South-South Cooperation and Development Finance, the South Centre

2. Ms. Dima Al-Khatib, Director of the United Nations Office for South-South Cooperation (UNOSSC)

3. Maria Renata Hutagalung, Director of International Development Cooperation, MoFA (TBC)

4. Yuliana Indriati, Direktur Pengembangan Usaha PT. Biofarma

 

Moderator 

Mr. Maulana Syahid, Coordinator for Socio-Cultural Function, Center for Policy Analysis and Development for Multilateral Affairs

 

Lead Discussant

1. Muhamad Iksan (Dosen Universitas Paramadina)

2. Penny Dewi Herasati, Director for Socio-Cultural Affairs and International Organization of Developing Countries

 

Hari dan tanggal: Kamis, 22 Februari 2024

Pukul: 13:00 s.d. 16:00 WIB

Tempat: Auditorium Firmanzah Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Jakarta 12790

Zoom: bit.ly/FPCT-20240222

 

Registrasi: bit.ly/ bit.ly/FPCT-20240222-REG

Info lanjut: Afdi +6285161018117 

Bedah Film Dirty Votes untuk Kawal Pemilu Jurdil. (13/02)

 

“Saya nggak risau, saya punya material yang saya butuhkan untuk defense yaitu data yang solid dan kredibel, barisan orang-orang yang punya integritas dan bukan partisan. Tiga hal itu yang membuat saya confidence, saya tidak mau ada satu orang pun yang berperan dalam film pun berafiliasi dengan 01, 02, atau 03.”  

 

Hal tersebut disampaikan Dhandy Laksono Sutradara Dirty Votes dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan LP3ES dengan tema “Bedah Film Dirty Votes Untuk Kawal Pemilu Jurdil” dan dilakukan secara daring, Selasa (13/2/2024) dan dimoderatori oleh Swary Utami Dewi.

 

Dandhy mengungkapkan latar belakang pembuatan film ini dikarenakan merasa resah dan gelisah dengan perkembangan pemberitaan belakangan ini.  Adapun proses sampai dengan terbentuknya tim kurang dari 24 jam, dan film mulai digarap sekitar akhir bulan Januari. Semuanya dilakukan dalam hitungan hari, dengan kontribusi yang mereka punya.

 

“Kami itu tidak membincangkan paslon manapun, yang kami bincangkan adalah yang memiliki kekuasaan” tegas Bivitri Susanti Akademisi Protagonis Dirty Votes. 

 

Bivitri memaparkan bahwa tujuan pembuatan film Dirty Votes bukan untuk mempengaruhi perubahan pilihan, pesan terpentingnya adalah bahwa kekuasaan itu benar-benar dapat terlihat dari kepala pemerintahan, kepala negara sebuah negara presidensiil yang jika disalahgunakan dapat sangat memberikan dampak. 

 

“Seharusnya ada ruang untuk berpikir tentang demokrasi kita secara luas, kita tidak diberikan itu. Hukum sering dijadkan tameng bagi politikus yang tidak beretika. Partisipasi politik tak hanya 5 tahun sekali, partisipasi politik ini harus digunakan secara terus menerus dan harus kritis” kata Bivitri. 

 

Selanjutnya Nur Hidayat Sardini, Ketua Bawaslu Pertama RI melihat film Dirty Votes mengungkapkan adanya deinstitusionalisasi demokrasi kita. Dimana film ini merupakan pelembagaan keresahan politik, film ini mampu menjadi kapiler dari seluruh persoalan dan semua orang yang merasa peduli dengan demokrasi merasa tersalurkan karena film Dirty Votes. 

 

“Saya sedang resah, karena teman-teman di Bawaslu selalu berpikir normatif. Syarat untuk menjadi pengawas pemilu itu tidak saja kapasitas dan integritas, tetapi juga nyali” tegas Hidayat. 

 

Wijayanto, Direktur Pusat Media dan Demokrasi LP3ES mengungkapkan bahwa dalam setiap gerakan masyarakat sipil selalu diikuti dengan represi digital dan propaganda meng-counter-nya. 

 

“Dirty Votes efektif karena berhasil di tonton 15juta kali, dan masih terus bertambah. Tetapi efektivitasnya akan makin besar jika juga diiringi dengan strategi untuk menangkis berbagai pelintiran yang berusaha utk melakukan berbagai stigmatisasi atasnya seperti fitnah, kebohongan dan seterusnya.” Kata Wijayanto.

 

Selama 5 tahun terakhir lanjut Wija, Indonesia telah berada pada kemunduran demokrasi dan otoritarianisme. “Mengutip  Samuel Huntington  bahwa di setiap negara yang melakukan transisi demokrasi pada akhirnya akan semakin menjadi demokratis atau malah menuju otoriter. Sehingga hal tersebut membutuhkan perjuangan bersama. Kita dapat menyelamatkan demokrasi dengan cara menggunakan power dalam hal ini adalah pemilu” tegas Wijayanto.

HASIL PENERIMAAN MAHASISWA BARU, PERIODE 18 FEBRUARI 2024

NO. Nama Calon Mahasiswa Program Studi Keputusan
1 Muhammad Najwan Rizky Desain Komunikasi Visual Diterima
2 Galang Surya Adi Prakoso Desain Komunikasi Visual Diterima
3 Muhammad Fadlan Fathoni Desain Komunikasi Visual Diterima
4 Raihan Rahman Desain Produk, Craft and Fashion Diterima
5 Enricko Elsya Daniswara Hubungan Internasional Diterima

Prosedur Daftar Ulang

Selamat atas keberhasilannya  LULUS dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru Universitas Paramadina, proses selanjutnya dipersilahkan untuk membaca petunjuk daftar ulang yang ada pada akun http://admission.paramadina.ac.id/site . Bila ada pertanyaan, jangan ragu untuk menghubungi kampus melalui nomor telepon 021-79181188 ext 200 atau WA ke 0815 9181 190.

Besar biaya perkuliahan yang harus dibayarkan pertama kali dapat dilihat pada table (klik disini). (jika informasi biaya kurang jelas mohon segera menghubungi bagian pendaftaran mahasiswa baru).Terima kasih atas kepercayaannya, untuk menuntut ilmu di Universitas Paramadina.

Catatan diskusi "Kualitas Hidup dan Pembangunan Berkeadilan" (12/02)

Mengutip Amartya Sen, human dignity atau martabat manusia menempatkan posisi seseorang sebagai subyek dimana pembangunan tidak akan mendapatkan kemuliaan jika kebijakan pembangunan tidak mencapai human dignity. 

 

Hal ini disampaikan Amich Alhumami, Ph.D. Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Bappenas dalam diskusi yang diselenggarakan secara hibrid oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) dengan tema “Kualitas Hidup dan Pembangunan Berkeadilan” Senin (12/2/2024). 

 

Diskusi ini merupakan rangkaian dari acara bedah buku berjudul “Konsep Kualitas Hidup dalam Kerangka Kapabilitas” yang ditulis oleh Dr. Sunaryo dan Pipip A. Rifa'i Hasan, Ph.D. dan dimoderatori oleh Dr. Iin Mayasari. 

 

Diskusi berlangsung secara hibrid di Auditorium Firmanzah Universitas dan dimoderatori oleh Dr. Iin Mayasari, M.Si.

 

Amich menilai bahwa dari akhir dekade 80-an dan awal 90-an, ada 2 (dua) buku yang berpengaruh yaitu Mitos-Mitos Pembangunan dan Martabat Manusia.  “Ekonom lama hanya melihat bahwa orang yang miskin karena tidak bekerja tetapi Amartya Sen mengatakan bahwa seseorang akan mengalami kemiskinan jika tidak menjalani secara struktural. Maka sudah seharusnya pembangunan dijadikan sebagai sebuah ide mengenai kebebasan.” Ujarnya.

 

Menurut Amich, Soedjatmoko juga menulis mengenai kebebasan dengan judul Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan beberapa judul buku lainnya.  “Jika dikaitkan dengan buku tersebut, maka negara harus memenuhi tiga kebutuhan warga negara, dimana negara harus bisa memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi setiap warga negara untuk mendapatkan kehidupan cukup dan layak, mendapatkan layanan pendidikan dengan itu dapat masuk pasar kerja, serta harus memastikan bahwa status izinnya baik dan terjamin dari sisi kesehatan.” Tegas Amich.

 

“Posisi Amartya Sen sebagai ahli ekonomi, tetapi kalau kita membaca karya beliau apakah membaca wajah sosiologi atau wajah ekonomi? Jadi sebenarnya Amartya Sen seorang ekonom atau antropolog? Karena yang dilihat dalam konsep dignity ini  merupakan gabungan filsafat sosial, antropolog dan ekonomi” Ungkap Amich. 

 

Prof. Dr. Didin S. Damanhuri guru besar Universitas Paramadina  sebagai ekonom yang berfokus pada makro menyatakan bahwa pada awalnya menyangka tulisan Amartya Sen memiliki fokus pada ekonomi mikro. “Kemudian mengutip physical quality life index yang dianggap terlalu makro, maka tidak menggambarkan perkembangan individu” kata Didin. 

 

Didin melihat Gross Domestic Product (GDP) menjadi ukuran negara berkembang, pecahnya Pakistan dan Bangladesh menjadi contoh negara yang gagal dengan untuk itu. 

 

Dalam paparannya Didin menyebutkan mengenai kategori kebahagiaan sebagai sebuah ukuran yang di konseptualisasikan pada tahun 2015 dengan mengeluarkan index kebahagiaan ala Bhutan. “Sampai hari ini masih belum ada kepastian mengenai index kebahagiaan ala Bhutan ini akan diadopsi oleh PBB sehingga kedepannya akan dijadikan pembanding.” Kata Didin.

 

“Kapabilitas orang per orang harus dikaitkan dengan ekonomi politik. Jika dikaitkan dengan kejadian sekarang ini, maka kapabilitas harus dikaitkan dengan moral, etik dan demokrasi” pungkas Didin.Mengutip Amartya Sen, human dignity atau martabat manusia menempatkan posisi seseorang sebagai subyek dimana pembangunan tidak akan mendapatkan kemuliaan jika kebijakan pembangunan tidak mencapai human dignity. 

 

Hal ini disampaikan Amich Alhumami, Ph.D. Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Bappenas dalam diskusi yang diselenggarakan secara hibrid oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) dengan tema “Kualitas Hidup dan Pembangunan Berkeadilan” Senin (12/2/2024). 

 

Diskusi ini merupakan rangkaian dari acara bedah buku berjudul “Konsep Kualitas Hidup dalam Kerangka Kapabilitas” yang ditulis oleh Dr. Sunaryo dan Pipip A. Rifa'i Hasan, Ph.D. dan dimoderatori oleh Dr. Iin Mayasari. 

 

Diskusi berlangsung secara hibrid di Auditorium Firmanzah Universitas dan dimoderatori oleh Dr. Iin Mayasari, M.Si.

 

Amich menilai bahwa dari akhir dekade 80-an dan awal 90-an, ada 2 (dua) buku yang berpengaruh yaitu Mitos-Mitos Pembangunan dan Martabat Manusia.  “Ekonom lama hanya melihat bahwa orang yang miskin karena tidak bekerja tetapi Amartya Sen mengatakan bahwa seseorang akan mengalami kemiskinan jika tidak menjalani secara struktural. Maka sudah seharusnya pembangunan dijadikan sebagai sebuah ide mengenai kebebasan.” Ujarnya.

Menurut Amich, Soedjatmoko juga menulis mengenai kebebasan dengan judul Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan beberapa judul buku lainnya.  “Jika dikaitkan dengan buku tersebut, maka negara harus memenuhi tiga kebutuhan warga negara, dimana negara harus bisa memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi setiap warga negara untuk mendapatkan kehidupan cukup dan layak, mendapatkan layanan pendidikan dengan itu dapat masuk pasar kerja, serta harus memastikan bahwa status izinnya baik dan terjamin dari sisi kesehatan.” Tegas Amich.

 

“Posisi Amartya Sen sebagai ahli ekonomi, tetapi kalau kita membaca karya beliau apakah membaca wajah sosiologi atau wajah ekonomi? Jadi sebenarnya Amartya Sen seorang ekonom atau antropolog? Karena yang dilihat dalam konsep dignity ini  merupakan gabungan filsafat sosial, antropolog dan ekonomi” Ungkap Amich. 

 

Prof. Dr. Didin S. Damanhuri guru besar Universitas Paramadina  sebagai ekonom yang berfokus pada makro menyatakan bahwa pada awalnya menyangka tulisan Amartya Sen memiliki fokus pada ekonomi mikro. “Kemudian mengutip physical quality life index yang dianggap terlalu makro, maka tidak menggambarkan perkembangan individu” kata Didin. 

 

Didin melihat Gross Domestic Product (GDP) menjadi ukuran negara berkembang, pecahnya Pakistan dan Bangladesh menjadi contoh negara yang gagal dengan untuk itu. 

 

Dalam paparannya Didin menyebutkan mengenai kategori kebahagiaan sebagai sebuah ukuran yang di konseptualisasikan pada tahun 2015 dengan mengeluarkan index kebahagiaan ala Bhutan. “Sampai hari ini masih belum ada kepastian mengenai index kebahagiaan ala Bhutan ini akan diadopsi oleh PBB sehingga kedepannya akan dijadikan pembanding.” Kata Didin.

“Kapabilitas orang per orang harus dikaitkan dengan ekonomi politik. Jika dikaitkan dengan kejadian sekarang ini, maka kapabilitas harus dikaitkan dengan moral, etik dan demokrasi” pungkas Didin.

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

Hubungi Kami

Kampus Jakarta
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
Indonesia
T. +62-21-7918-1188
T. 0815-918-1190

E-mail: [email protected]
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus Cipayung
Jl. Raya Mabes Hankam Kav 9, 
Setu, Cipayung, Jakarta Timur 13880�
T. 0815-818-1186


Kampus Cikarang

District 2, Meikarta,
Cikarang
T. 0815-918-1192�