Puasa Ramadan Itu Ringan

Oleh: Zainul Maarif

Umat Nabi Muhammad SAW layak bersyukur karena puasa wajib di bulan Ramadan termasuk ringan. Ada orang non-Islam yang menyatakan puasanya orang

Islam hanya memindahkan jadwal makan dari siang ke malam. Ringannya puasa Ramadan yang diwajibkan bagi pengikut Nabi Muhammad itu tampak bila dibandingkan dengan puasa yang dijalani para nabi terdahulu dan budaya non-Arab.

Nabi Dawud AS dikenal berpuasa secara selang-seling. Sehari puasa, sehari tidak, sepanjang tahun. Mengenai puasa Dawud tersebut Nabi Muhammad SAW bersabda,“Afdhalu ash-shiyâm shaumu akhî dâwud. Kâna yashûmu yauman wa yufthiru yauman.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar itu, Nabi Muhammad SAW memuji puasa Dawud sebagai puasa terbaik.

Dibandingkan puasa dahri (puasa setahun penuh selain hari raya dan tiga hari tasyriq), puasa Dawud dinyatakan oleh Abu Hamid Al-Ghazali sebagai puasa yang asyaddu 'alâ an-nafs wa aqwâ fî qahrihâ (puasa yang lebih keras dan kuat mengekang diri). Sebab, puasa dahri benar-benar mengubah pola makan dan menjadi kebiasaan yang lebih ringan dibandingkan puasa Dawud yang mendorong orang untuk puasa dan berbuka secara selang seling setiap hari secara konsisten.

Pengikut Nabi Muhammad perlu bersyukur karena puasa Dawud tersebut hanya diposisikan sebagai puasa sunah, sementara puasa dahri tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad, namun diapreasiasi oleh Abu Musa Al-Asy'ari. (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyâ’ 'Ulûmiddîn, Beirut: Darul Fikr, 1995, volume 1, halaman 301)

Di masa Nabi Zakaria AS hidup, puasa yang diberlakukan antara lain adalah puasa diam. Hal itu dapat dibaca melalui ayat-ayat Alquran yang menyebutkan tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Zakaria AS untuk tidak berbicara dengan siapa pun selama beberapa hari ketika Allah hendak menganugerahinya seorang putra bernama Nabi Yahya AS. Maryam binti Imran, kerabat Nabi Zakaria AS juga tercatat di dalam Alquran melakukan puasa diam ketika mengandung Nabi Isa AS. Bayangkan bila syariat puasa yang berlaku pada masa kenabian Nabi Zakaria AS itu diberlakukan pada umat Nabi Muhammad SAW, bukankah itu sangat berat, terutama bagi orang-orang yang suka merumpi?

Budaya Jawa mengenalkan beberapa ragam puasa. Hingga kini, puasa tersebut masih dilakukan oleh para penganut Kejawen dan para santri. Puasa yang dimaksud, antara lain adalah mutih dan ngebleng. Yang dimaksud dengan puasa mutih adalah hanya makan nasi dan minum air mineral selama jangka waktu yang ditetapkan. Puasa dimulai pukul 6 sore sehabis magrib dan puasa berakhir pada pukul 6 sore juga. Jika puasa mutih selama tujuh hari tujuh malam dan dimulai pada Minggu, maka Sabtu pukul 6 sore sudah masuk puasa mutih dan berakhir pada Sabtu berikutnya.

Sedangkan puasa ngebleng adalah tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Tata caranya sama seperti puasa mutih, "hanya” ada tambahan, yakni tidak boleh tidur 24 jam. (Damar Shashangka, Induk Ilmu Kejawen: Wirid Hidayat Jati, Jakarta: Dolphin, 2016, halaman 452 dan 454)

Untung puasa Ramadan bukan puasa mutih, puasa ngebleng, puasa diam, dan puasa Dawud. Bayangkan bila puasa Ramadan adalah salah satu dari puasa-puasa tersebut, betapa beratnya puasa selama sebulan ini? Mengingat puasa Ramadan lebih ringan daripada puasa para nabi terdahulu dan puasa yang terdapat dalam budaya Kejawen dan santri itu, maka seharusnya umat Nabi Muhammad SAW bersyukur dan tak terbebani melaksanakannya.

Penulis adalah dosen falsafah dan agama Universitas Paramadina Jakarta dan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta.

sumber:

http://www.beritasatu.com/pelangi-ramadan-2016/tausiah/433810-puasa-ramadan-itu-ringan.html 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed