Assalamu'alaikum wr. wb.

 

Segenap Civitas Akademika Universitas Paramadina, menghaturkan

 

Selamat Idul Fitri 1440H

Mohon maaf lahir dan batin

 

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Allah menurunkan dua bentuk petunjuk, yakni kitab Allah (Alquran) yang diistilahkan dengan kitab al-Munazzalah dan “kitab alam” yang diistilahkan dengan kitab al-majbûlah. Siapa saja yang mengikuti petunjuk kedua kitab ini, insyaallah akan selamat hidupnya dunia dan akhirat.

Contoh isyarat Allah pada kitab alam, seperti yang ditulis oleh Muhammad Abduh, mufasir kondang dari Mesir. Disebutkan, dalam sebuah kebun ditanam peria dan semangka. Kedua tumbuhan ini tumbuh pada tanah yang sama, disirami dengan air yang sama dan menghirup udara yang sama, bahkan tumbuhnya berdekatan dan akarnya saling berdempetan. Kenapa rasa buah semangka yang manis tidak pernah pindah pada rasa peria yang pahit, dan rasa peria yang pahit tidak pernah pula pindah pada rasa semangka yang manis?

Kita di dunia ini tidak pernah memakan semangka sepahit peria. Hal ini berarti adanya Yang Maha Pengatur yang membuat aturan, bahwa semangka hanya menyerap zat makanan yang menjadikan buahnya manis dan peria juga menyerap zat makanan yang membuat buahnya pahit. Yang Maha Pengatur itulah yang dalam Islam disebut Allah.

Lebih unik cara kerja otak manusia, ia dapat menyimpan, mengembangkan dan mengingat. Menurut BJ Habibie, andaikan tata kerja otak manusia dibuat bentuk komputer, akan terjadi komputer sebesar bola bumi kita ini.

Kata iqra (qira’ah) ialah membaca bersifat umum, baik membaca sesuatu yang tersusun dari huruf-huruf maupun tidak, baik yang tersurat maupun yang tersirat, baik ayat Allah maupun ayat alam, baik yang berfisik maupun yang tidak berfisik, baik ayat Alquran maupun koran. Baca diri kita, baca kondisi negara kita, baca nasib anak-anak kita. Perlu diingat bahwa syarat membaca atau menuntut ilmu pengetahuan harus atas nama Allah (بِاسْمِ رَبِّكَ) Apabila membaca tidak atas nama Allah, walaupun juga mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi ilmu tersebut akan merusak yang bersangkutan, orang lain dan alam semesta. Belajar dan membaca adalah modal kemajuan bangsa dan budaya.

Menangkap isyarat kitab alam tidak dapat mengandalkan bahasa Arab semata, akan tetapi dibutuhkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya. Sesuai dengan sunatullah (hukum alam ciptaan Allah), ilmu tidak akan diperoleh tanpa belajar. Karenanya, orang yang berilmulah yang akan dapat menjawab pertanyaan kunci, bagaimana unta dijadikan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan.

Ilmu pengetahuan adalah modal utama dalam mengungkapkan semua ciptaan Allah. Karena ilmu pengetahuanlah sebab utama para malaikat diinstruksikan Allah sujud hormat kepada moyang kita, Adam AS. Kelebihan ini tidak dimiliki makhluk lain, termasuk para malaikat sendiri.

Atas kelebihan inilah Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, pada dasarnya, semua yang ada di bumi ini diperuntukkan Allah untuk manusia, bahkan gratis. Dengan arti, manusia tidak pernah membayar kepada Allah memakai matahari, udara, air, tanah dan semua yang ada di alam ini. Karena itu, manusia harus mengabdi dengan tulus kepada Allah.

Di antara bentuk pengabdian itu ialah manusia berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan, walau di ujung dunia dan di langit sekalipun, yang kemudian dikembangkannya untuk memakmurkan bumi ini. Manusia dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, tidak perlu membedakan agama dan suku bangsa. Silakan bekerja sama dengan siapa pun. Manusia yang diinginkan Alquran, bukanlah manusia yang bodoh, tetapi manusia yang pintar, manusia yang sanggup menjaring langit, manusia yang bisa menaklukkan alam semesta, manusia yang kepalanya penuh dengan ilmu pengetahuan, akan tetapi hatinya selalu tawaduk kepada aturan Allah.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, Jakarta.

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/556150/manusia-quranik

 

Oleh: Fuad Mahbub Siraj*

Manusia diciptakan Allah dari dua unsur. Unsur yang pertama ialah jasmani atau jasad. Jasmani manusia diciptakan Allah dari tanah. Ia bersifat benda atau materi. Karena itu, kebutuhan jasmani juga berbentuk benda atau materi. Selain itu, jasmani manusia juga dilengkapi dengan hawa nafsu. Hawa nafsu, berarti keinginan dan kecenderungan kejasmanian dan ia tidak mungkin dibunuh kecuali manusia itu sendiri yang mati. Tanpa nafsu manusia tidak akan ada keturunan.

Hawa nafsu perlu dikontrol dan dikendalikan. Jika nafsu tidak terkontrol, maka ia akan mendorong manusia mementingkan hidup kematerian atau kebendaan. Manusia seperti itu akan mudah hanyut dalam kehidupan yang tidak bersih, bahkan mudah berbuat kejahatan. Dengan kata lain, manusia seperti ini biasa berkubang dalam kebejatan, karena hanyut dalam pusaran gravitasi dunia.

Unsur kejadian manusia yang kedua ialah rohani. Rohani manusia bukan berasal dari materi, tetapi ia berasal dari unsur roh, yang berarti suci. Karena roh berasal dari sesuatu yang suci, maka kebutuhannya pun juga bersifat rohani dan suci. Roh inilah yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang suci dan terpuji.

Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini memiliki sifat khusus. Karena sifat khusus itulah ia dinamakan demikian. Malaikat, umpamanya, diciptakan Allah dengan sifat khususnya selalu patuh pada Allah dan selalu berbuat baik. Jika ada malaikat yang tidak patuh, maka ia tidak lagi dinamakan malaikat. Karena kepatuhan itulah ia disebut dengan malaikat.

Begitu pula Allah menciptakan setan. Sifat khusus setan adalah selalu ingkar kepada Allah dan selalu berbuat kejahatan. Jika setan ada yang patuh dan berbuat baik, maka ia tidak lagi dinamakan setan dan harus diganti namanya.

Allah menciptakan manusia yang mempunyai sifat patuh dan ingkar. Kepatuhan manusia kepada Allah bisa lebih malaikat daripada malaikat. Sebab kalau malaikat patuh tidaklah aneh, karena ia tidak mempunyai sifat ingkar. Akan tetapi, jika manusia yang patuh dapat dikatakan luar biasa, karena manusia sanggup mengekang sifat ingkarnya.

Begitu pula keingkaran manusia bisa lebih setan daripada setan. Sebab setan tidak pernah memotong-motong manusia, sedangkan kebiadaban manusia tidak hanya mampu memutilasi sesamanya, bahkan tega melakukan perbuatan yang sangat biadab sekalipun.

Karena itulah Allah dalam Alquran mengatakan bahwa manusia bisa menjadi setan, bukan bentuk manusia yang berubah menjadi setan, tetapi perbuatan manusia itu sendiri sudah menjadi perbuatan setan, bahkan melebihi perbuatan setan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menggambarkan seekor harimau dimasukkan ke dalam kandang kambing, maka yang habis olehnya seekor atau dua ekor kambing.

Akan tetapi, manusia, jangankan satu kandang, berpuluh-puluh dan beratus-ratus kandang, bahkan dengan kandang-kandangnya akan habis oleh manusia. Manusia seperti inilah yang disebut manusia perusak di bumi yang membawa kesengsaraan kepada masyarakat.

Untuk itulah Allah membimbing manusia dengan mewajibkan beribadah kepada-Nya agar rohani manusia selalu bersih dan bening. Dengan kebersihan rohani inilah keinginan jasmani manusia akan dapat terkendali.

Tempat bersemayamnya rohani manusia pada hati. Kebersihan hatilah yang menentukan buruk-baiknya seseorang. Firman Allah dalam Alquran surat al-Hajj ayat 46,"Maka sesungguhnya bukan mata kepala mereka yang buta, tetapi mata hati mereka yang buta. Apabila dalam dirinya terdapat hati yang bersih, maka akan lahir di sana akhlak yang terpuji. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang tersimpan hati yang kotor, maka akan lahir di sana akhlak yang bejat."

Ahli hikmah berkata,"Hati yang bercahaya akan melahirkan watak terpuji, seperti keikhlasan, kejujuran, kesederhanaan, dan kepemimpinan. Sedangkan hati tanpa nurani akan melahirkan watak kotor dan biadab."

Dengan hati yang bersih kita dapat mengoreksi diri. Dengan hati yang bening kita dapat mengendalikan diri. Allah Yang Maha Suci tidak mungkin dekat atau memberikan nur-Nya kepada hati orang yang tidak suci. Alquran diturunkan Allah Yang Maha Suci, pada bulan Ramadan yang suci, maka ia akan memberikan cahaya kepada orang yang hatinya suci. Alquran tidak pernah mampir kepada orang yang hatinya kotor dan berkarat, walaupun ia bisa menghafal Alquran.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, Jakarta.

sumber: 

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/556733/hati-yang-bersih-sumber-kebaikan 

Oleh: Zainul Maarif*

Idealnya orang baik menikah dengan orang baik, sementara orang buruk menikah dengan orang buruk. Hal itu selaras dengan firman Allah yang berbunyi,"Al-khabîtsât li al-khabîtsîn wa al-khabîtsûn li al-khabîtsât ath-thayyibât li ath-thayyibîn wa ath-thayyibûn li ath-thayyibât." (Perempuan buruk untuk lelaki buruk, dan lelaki buruk untuk perempuan buruk. Perempuan baik untuk lelaki baik, dan lelaki baik untuk perempuan baik, QS An-Nur: 26)

Namun, dalam kenyataan historis, tak selamanya orang baik berpasangan dengan orang baik, dan orang buruk tak selalu berpasangan dengan orang buruk. Ada kalanya orang baik berpasangan dengan orang buruk.

Oleh karena itu, ada empat pasangan hidup berdasarkan kategori baik-buruk. Pertama, lelaki shalih (baik) berpasangan dengan perempuan shalihah (baik). Kedua, lelaki shalih (baik) berpasangan dengan perempuan thalihah (buruk). Ketiga, lelaki thalih (buruk) berpasangan dengan perempuan shalihah (baik). Keempat, lelaki thalih (buruk) berpasangan dengan perempuan thalihah (buruk).

Pasangan pertama, yaitu pasangan shalih dan shalihah adalah pasangan paling ideal. Contohnya Nabi Ibrahim AS. dan Sarah. Nabi Ibrahim adalah lelaki baik, religius, dan cerdas. Istrinya, yang bernama Sarah adalah perempuan cantik berakhlak mulia. Pernikahan Nabi Ibrahim dan Sarah melahirkan Nabi Ishaq, yang kemudian beranak Nabi Ya'qub, yang punya anak Nabi Yusuf. Pasangan shalih dan shalihah tersebut, dengan kata lain, melahirkan anak-cucu yang shalih.

Pasangan kedua tidak ideal, yaitu pasangan shalih dan thalihah. Contohnya pasangan Nabi Nuh dan Walihah, serta pasangan Nabi Luth dan Wali'ah. Nabi Nuh dan Nabi Luth adalah pria-pria shalih, sementara istri-istri mereka adalah para pengkhianat (QS At-Tahrim: 10). Istri Nabi Nuh mengabarkan kepada masyarakat bahwa Nabi Nuh gila. Istri Nabi Luth mempersilakan masyarakat bermaksiat dengan tamu suaminya.

Pasangan ketiga juga pasangan buruk. Bedanya di kategori ketiga, suami thalih menikah dengan istri shalihah. Contohnya Fir'aun era Nabi Musa menikah dengan Asiyah binti Muzahim, seorang Bani Israel. Fir'aun mengaku sebagai Tuhan dan bertindak bengis terhadap Bani Israel. Asiyah menyelamatkan Nabi Musa yang masih bayi dari kekejaman Fir'aun, dan mengesakan Tuhan, hingga dihukum oleh Fir'aun, tetapi ditempatkan di tempat mulia oleh Allah. (QS At-Tahrim: 11)

 

Terakhir adalah pasangan terburuk, yaitu pasangan thalih dan thalihah.Contohnya Abu Lahab dan istrinya yang bernama Arwa Ummu Jamil. Mereka berdua bahu-membahu mengganggu dakwah Nabi Muhammad SAW. Keburukan perilaku mereka hingga diabadikan menjadi satu surat di Alquran yaitu surat Al-Lahab.

Seyogianya masing-masing kita, baik lelaki maupun perempuan, menjadi orang baik, supaya kita berpasangan dengan orang baik, seperti di kategori pertama: pasangan shalih dan shalihah. Jangan sampai kita buruk dan berpasangan dengan orang buruk seperti kategori keempat, yaitu pasanganthalih dan thalihah.

Jika Anda baik, tetapi berpasangan dengan orang buruk, maka Anda sedang diuji untuk bersabar dan naik derajat, seperti Nabi Nuh, Nabi Luth dan Asiyah. Cepat atau lambat, Allah akan melepaskan Anda dari pasangan buruk Anda itu, dan memberi ganti yang terbaik untuk Anda.

Sebaliknya, jika Anda buruk dan berpasangan dengan orang baik, maka Anda sedang mendapatkan istidrâj, yaitu nikmat sementara yang berujung pada nestapa. Hal itu seperti yang dialami Fir’aun, Walihah, dan Wali’ah. Seyogianya mereka bersyukur dengan menjadi orang baik, sebagaimana pasangan mereka yang baik. Namun mereka justru tetap berperilaku buruk, sementara pasangan mereka berperilaku baik. Akibatnya, mereka tak sekadar dipisahkan dari pasangan mereka yang baik itu, melainkan mendapat azab dari Tuhan juga. Na'ûdzu billâh min dzâlik.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta.

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/556432/pasangan-hidup

 

Oleh: Aan Rukmana*

Sepulang Rasulullah dan para sahabat dari suatu peperangan yang sangat menentukan pada tanggal 17 Ramadan, yaitu Perang Badar, beliau berkata,"Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” (raja’na min al-jihad al-ashghar ila al-jihad al-akbar). Para sahabat heran dengan perkataan Rasulullah tersebut karena peperangan yang sangat berat tersebut dianggap hanya sebagai jihad kecil dan masih ada jihad lain yang jauh lebih besar lagi. Mereka bertanya,"Jihad apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab,"Jihad melawan hawa nafsu.” Jihad melawan hawa nafsulah jihad yang jauh lebih besar daripada segala peperangan yang bersifat fisik.

Sepintas, pernyataan Rasulullah tersebut seakan melawan asumsi umum bahwa jihad terbesar adalah jihad melalui perjuangan fisik. Maka, tidak heran jika hingga saat ini umat Islam masih banyak yang beranggapan bahwa jihad yang terbesar, yaitu jihad fisik. Padahal sudah jelas-jelas Rasulullah sendiri menyampaikan bahwa jihad melawan hawa nafsu sendirilah yang terberat dan tersulit, sehingga diyakini sebagai jihad yang terbesar. Jihad dalam menahan emosi sendiri merupakan jalan panjang yang berliku dan mengandaikan latihan ruhani yang tiada henti.

Puasa di bulan Ramadan merupakan momentum yang paling tepat untuk mengasah kemampuan diri dalam mengelola diri sendiri yang memiliki efek dimensi sosial. Perintah untuk tidak makan dan minum serta melakukan hal-hal yang akan membatalkan puasa kita mulai dari terbit matahari sampai terbenamnya akan melahirkan pribadi yang jauh penuh tenggang rasa dengan sesamanya, memiliki kemampuan kontrol diri (self control) yang baik serta bersabar di dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tetap penuh harap akan kasih sayang Allah SWT. Pribadi seperti inilah merupakan cerminan pribadi yang akan menjadi oase bagi sesamanya. Di saat kehidupan sedang sulit, ia akan menjadi pembawa obor harapan dan optimisme. Di pundak pribadi inilah masa depan kehidupan umat manusia akan terlihat jauh lebih baik dan membawa banyak harapan positif.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar puasa kita dapat menjadi media pelatihan diri yang berhasil. Terdapat tiga hal yang menjadi catatan dalam pelaksanaan ibadah puasa yang berhasil.

Pertama, momen puasa dapat dilihat bukan semata sebagai ibadah rutin tahunan, melainkan sebagai sekolah bersama dalam melatih diri sendiri. Meski pelaksanaannya bersifat kolektif, akan tetapi pengalaman yang dirasakannya bersifat sangat personal (privat) sehingga menjadi kesempatan yang tepat bagi diri sendiri untuk mengecek lebih detail nilai-nilai diri yang dimiliki.

Apakah kita termasuk sebagai orang yang penyabar, tentu hanya diri sendirilah yang mengetahui derajat kesabaran yang dimiliki. Jika kita masih merasa kurang kadar kesabarannya, kita bisa melatihnya secara optimal di bulan penuh berkah ini.

Setiap nilai yang sedang dilatih pasti ada ujiannya. Nilai sabar akan diberi ujian hal-hal yang barangkali mudah menjengkelkan hati dan memicu kita untuk marah. Andai kita tidak memberi respons marah atas berbagai stimulus yang ada, di sanalah kita akan mengalami peningkatan nilai sabar dalam diri sendiri. Begitu juga dengan nilai lainnya seperti nilai tawaduk yang akan diuji dengan perkara-perkara yang bisa membuat kita besar kepala dan sombong.

Kedua, target utama dari pelaksanaan ibadah puasa yaitu agar kita yang beriman dapat menjadi orang-orang yang bertakwa (la’allakum tattaqûna). Artinya, seseorang yang beriman belum tentu sudah mencapai derajat takwa. Proses mencapai takwa merupakan proses jangka panjang yang untuk meraihnya membutuhkan daya upaya yang besar. Proses menuju takwa merupakan perjalanan seumur hidup kita.

Kita tidak boleh merasa sudah mencapai nilai takwa karena hal tersebut dapat melahirkan kesombongan dalam diri sendiri. Justru kesadaran yang harus ditumbuhkan, yaitu kesadaran bahwa kita senantiasa sedang berproses dan berjalan menuju ketakwaan. Inilah yang akan melahirkan dalam diri sendiri suatu sikap batin yang penuh rendah hati dan tawaduk.

Di hadapan manusia lain yang sedang berposes menuju takwa kita pandang dengan tatapan penuh respek dan hormat. Sebagai manusia biasa, kita tidak berhak mengklaim sudah sampai ke titik takwa. Allah-lah yang paling berhak untuk memutuskan apakah seseorang sudah sampai ke tingkatan takwa atau belum. Kita tinggal bertawakal kepada Allah saja kalau sudah berusaha mencapai takwa.

Ketiga, ajaran Islam sebagaimana dicontohkan dengan baik oleh Rasulullah merupakan ajaran nilai-nilai mulia (al-akhlâq al-karîmah). Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa misi utama pengutusnya merupakan suatu perjuangan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dimensi akhlak inilah ajaran utama Islam. Ia meliputi semua segi kehidupan manusia baik yang bersifat personal maupun bersifat sosial.

Akhlak yang mulia terletak di dalam pribadi yang matang yang dicirikan oleh kemampuan untuk menahan diri dari berbagai godaan yang menjadikan dirinya out of control. Pribadi yang berakhlak mulia ini akan menjadi pemantik pijar peradaban umat manusia sejagad. Ia bukan sosok yang suka memecah belah umat manusia, melainkan sosok yang selalu mencari titik temu (kalimatun al-sawa’) dari perbedaan yang ada. Semoga puasa kali ini mampu membawa kita semua menjadi umat yang memiliki akhak mulia sebagaimana dicontohkan Rasulullah.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

sumber

https://www.beritasatu.com/jalan-pulang/556947/latihan-menahan-diri 

 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed