fbpx
Previous Next

Webinar Art Therapy Untuk Mengatasi Self-Harm

Self-injurious behaviour (SIB) atau perilaku menyakiti diri sendiri merupakan masalah yang kerap muncul pada sejumlah individu akibat tidak mampu mengatasi tekanan yang mereka rasakan untuk kemudian diungkapkan ke luar diri dengan cara atau solusi yang baik. SIB adalah perilaku menyakiti diri sendiri yang mengakibatkan cedera fisik tanpa adanya maksud untuk bunuh diri. SIB merupakan respon untuk mengatur emosi afersif seperti kemarahan atau permusuhan pada orang lain di mana hal ini merepresentasikan strategi regulasi emosi yang disfungsional atau maladaptif. Emosi yang maladaptif termasuk di dalamnya berhubungan dengan emosi yang melibatkan proses kognitif, ekspresi wajah dan reaksi otot, perilaku atau aksi, fisiologi, dan emosi. Pelaku SIB tidak bisa mentoleransi distress emosional yang dirasakan dan cenderung meregulasi emosi tersebut secara subjektif dan tidak terkontrol. Pelaku SIB harus belajar untuk lebih mampu mengenali emosi dan belajar meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk mengekspresikan emosi secara adekuat sehingga dapat menghadapi situasi yang mengandung stres (In-Albon, Burli, Ruf, & Schmid, 2013).
Fenomena SIB memang kerap banyak dilakukan oleh remaja, namun hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan terjadi pada individu dewasa. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia yang paling khas untuk melakukan SIB adalah pada usia remaja sampai dewasa akhir. Perubahan psikologis yang mengarah pada munculnya distress psikologis pada dewasa muda adalah seperti mengalami permasalahan dalam hal hubungan interpersonal, penyesuaian diri terhadap peran baru, pekerjaan, status pernikahan, dan tuntutan-tuntutan baru dari lingkungan sekitar yang disesuaikan dengan bertambahnya usia (Hurlock, 2002).

SIB memiliki dampak negatif yaitu dapat menyebabkan kematian. Walaupun berbeda dengan bunuh diri, data statistik Centers for Disease Control (CDC, 2002) mencantumkan bahwa sebanyak 1,4% individu meninggal diakibatkan oleh cutting, di mana hal ini sebagai bentuk dari self-injury yang paling banyak dilakukan. Berdasarkan data statistik tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku self-injury merupakan perilaku yang dapat membahayakan diri yang kemudian pada akhirnya mengarah pada suicide ideation bahkan pada perilaku bunuh diri terutama ketika individu tersebut sedang sendirian (Plener, Libal. Keller, Fegert, & Muehlenkamp, 2009, dalam Hoffman & Kress, 2010).

Oleh karenanya, untuk dapat menghindari dan mengatasi kemungkinan dampak negatif yang akan muncul pada pelaku SIB, dibutuhkan intervensi psikologis yang tepat, salah satunya adalah art therapy. Art therapy dapat digunakan sebagai salah satu media terapi untuk mengekspresikan emosi dan proses penyembuhan secara non verbal. Berkaitan dengan ekspresi emosi, pelaku SIB memiliki pengalaman emosi negatif yang cukup tinggi dan cenderung dialami berulang kali (Klonsky & Muehlenkamp, 2007; Voon, Hasking, & Martin, 2014). Mereka seringkali merasakan emosinya secara berlebihan dan tidak terkontrol sehingga menjadi mati rasa dan level distress psikologisnya pun menjadi semakin tinggi (Haskin et al., 2010; Voon, Hasking, & Martin, 2014). Hal ini mengartikan bahwa individu yang melakukan SIB memang terkait dengan kemampuan dalam meregulasi emosi (Martin et al., 2010; Voon, Hasking, & Martin, 2014). Art therapy memungkinan individu untuk dapat melewati berbagai hambatan dalam mengekspreskan diri dengan menggunakan material seni sederhana. Salah satunya adalah dengan menggambar dimana dapat membantu individu untuk lebih memahami self-regulation mereka.

Mendasarkan pada fenomena tersebut, Dosen Program studi Psikologi yaitu Dinar Saputra, M.Psi, Psikolog. menjadi narasumber dalam WEBINAR ART THERAPY UNTUK MENGATASI SELF-HARM. Kegiatan ini terselenggaran atas kerja sama dengan konsultan psikologi Vajra Cipta Nirvana dalam melakukan kegiatan seminar daring (webinar) yang dibuka untuk umum pada tanggal 31 April 2020. Tujuannya agar dapat memberikan kontribusi positif untuk masyarakat luas dengan memberikan upaya intervensi psikologis berkaitan dengan self-harm. Adapun tema besar yang diangkat adalah memberikan psikoedukasi dan beberapa langkah intervensi klinis yang dapat dilakukan secara praktis untuk membantu masyarakat secara umum untuk mengatasi self-harm dengan art therapy.

 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Hubungi Kami

Kampus S1 & s2:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1190
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 
I
G: @universitas_paramadina
FB: fb.com/paramadina

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed