Kunjungan Studi MK Psikologi Abnormal Ke Yayasan Galuh

Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Terdapat bermacam-macam gangguan jiwa dengan penderita yang kerap kali dikucilkan, mendapat perlakuan diskriminasi, di isolasi bahkan hingga di pasung. Padahal perlakuan-perlakuan tersebut tidak akan membantu penderita sama sekali bahkan dapat menjadi lebih parah. Sedangkan manusia dengan keterbelakangan mental yang berbeda dengan penyakit mental atau yang sering disebut dengan gangguan jiwa juga kerap kali mendapatkan perlakuan yang serupa (dalam Lubis, dkk, 2014).

Pada Era Globalisasi dan persaingan bebas ini kecenderungan terhadap peningkatan gangguan jiwa semakin besar, hal ini disebabkan karena stresor dalam kehidupan semakin kompleks. Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan sosial, pengangguran, masalah dalam pernikahan, kesulitan ekonomi, tekanan di pekerjaan dan diskriminasi meningkatkan resiko penderita gangguan jiwa (Suliswati, 2005, dalam Sulistyorini, 2013). Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat disekitarnya dibandingkan individu yang menderita penyakit medis lainnya. Tidak hanya menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi juga bagi anggota keluarga, meliputi sikapsikap penolakan, penyangkalan, dan disisihkan. Penderita gangguan jiwa mempunyai resiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi manusia (Priyanto, 2007, dalam Sulistyorini, 2013). Mereka sering sekali disebut sebagai orang gila (insanity atau madness). Perlakuan ini disebabkan karena ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai gangguan jiwa.

Data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2007, total jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6% dari populasi dan 0,46% menderita gangguan jiwa berat atau 46 per mil. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Depkes, 2007) menyatakan 14,1% penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa dari yang ringan hingga berat, kondisi ini diperberat melalui aneka bencana alam yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Data jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia terus bertambah, data dari 33 rumah sakit jiwa (RSJ) diseluruh Indonesia hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang. 11,6% penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional atau berkisar 19 juta penduduk. Sebesar 0,46% diantaranya bahkan mengalami gangguan jiwa berat atau sekitar 1 juta penduduk (dalam Sulistyorini, 2013). Oleh karenanya, dibutuhkan tempat/lembaga/rumah sakit/komunitas/yayasan yang siap menaungi orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) agar mendapatkan perawatan yang layak untuk membantu mereka dalam melanjutkan hidupnya di keseharian.

Salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang kemanusiaan untuk merawat ODGJ adalah Yayasan Galuh yang berlokasi di kawasan Rawalumbu, Bekasi. Berbekal semangat, tahun 1984 Gendu (pemilik yayasan) membangun sebuah yayasan khusus yang merawat orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Hingga hari ini, 7 tahun setelah kematian Gendu, Yayasan Galuh masih aktif memberikan kemerdekaan bagi penyandang gangguan jiwa. Saat ini, yang bertanggung jawab atas Yayasan Galuh adalah cucu dari Gendu yaitu Jajat Sudrajat. Perjuangan Yayasan Galuh pun mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah. Pada 9 Februari 2011, yayasan ini mendapat piagam Satya Lencana Kebaktian Sosial dari pemerintah. Kini, yayasan sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Yayasan ini bahkan cukup lengkap dengan bangunan kantor dan mess untuk perawat dan staf, aula yang bisa dijadikan ruang makan, dan sebuah bangunan besar dengan teralis besi untuk menampung warga binaan. Ada beberapa kegiatan rutin yang cukup padat dilakukan oleh 430 warga binaan Yayasan Galuh sejak pagi setiap harinya. Seluruh warga binaan tersebut, dibagi menjadi 3 kelas berbeda yang dibedakan dari tingkat kesadaran warga binaan. Ada kelas 40 (sudah bisa diajak komunikasi, tapi kebersihan mereka kurang), kelas 50 (mulai santai diajak komunikasi tapi kebersihan masih kurang), dan kelas 60 (sudah bisa komunikasi dengan baik, dan kebersihan mulai terjaga) (Amanaturrosyidah, O, dkk, 2018.

Dalam proses mengenal lebih dekat dengan ODGJ, Program Studi Psikologi Universitas Paramadina melakukan kunjungan studi sebagai bagian dari Mata Kuliah Psikologi Abnormal. Adapun tujuan dari kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru untuk menemu-kenali ODGJ secara langsung baik dalam mengidentifikasi gejala/simptom klinis yang muncul, bagaimana caranya berinteraksi dan menerima kondisi mereka, hingga belajar untuk memberikan ketrampilan bagi ODGJ demi kelangsungan hidup mereka yang lebih baik. Dari kegiatan ini mahasiswa secara langsung menerapkan ilmu-ilmu psikologi yang telah dipelajari khususnya yang berkaitan dengan abnormalitas. Selain itu, dapat membuka wawasan dan merubah stigma mereka terhadap ODGJ selama ini. Dalam kunjungan studi ini juga, Program Studi Psikologi memberikan bantuan berupa uang beserta perlengkapan lainnya yang dibutuhkan oleh Yayasan Galuh dengan mengumpulkan donasi secara terbuka kepada seluruh civitas academica di Program Studi Psikologi.

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed