Rehabilitasi Rasa Malu

Oleh: M Subhi-Ibrahim*

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu. (HR Ibnu Majah no. 4181)

Dalam keseharian, kita kerap berucap,”Saya malu.” Ungkapan tersebut bukan sekadar ucapan tanpa isi (makna). Ungkapan tersebut terkait dengan eksistensi kita, keberadaan kita, cara mengada kita. Uniknya, malu bukan terletak hanya pada muka saja, atau pada salah satu bagian tubuh kita. Seluruh diri, jiwa dan raga. Kita merasakan malu. Diri kita malu.

Lalu apa itu malu? Malu (al-haya’) diartikan sebagai momen dukacita yang terjadi pada jiwa karena takut dicela. Dalam Nashaih al-Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani membagi malu menjadi dua. Pertama, malu nafsani, malu yang berasal dari kodrat kita sebagai manusia.

Kodrat apakah yang dimaksud? Ada dua kodrat dalam konteks malu jenis ini. Pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, yakni ketidakmampuan untuk mengungkap keseluruhan diri. Dalam relasi dengan orang lain, seseorang memiliki kecenderungan untuk menutupi sebagian dari dirinya. Menjadi manusia berarti setengah terbuka, setengah tertutup.

Sedekat apa pun kita dengan seseorang, selalu tersisa sisi misteri dari orang tersebut. Ada semacam privasi yang harus dijaga. Jika privasi tersebut dibongkar, seseorang akan merasa kehilangan keamanaan dirinya, merasa haknya diperkosa, dan merasa malu. Contohnya, kita merasa malu telanjang di depan umum.

Kedua, malu sebagai konsekuensi manusia sebagai makhluk sosial (social being). Dalam konteks sosial, malu terkait erat dengan kehormatan. Secara naluriah, tiap orang, individu, menghargai dirinya. Seseorang pasti melihat dirinya sebagai sesuatu yang berharga, bernilai, dan mulia.

Anggapan pribadi tersebut mendapatkan konfirmasi dari lingkungan sosial, masyarakat, dalam bentuk status sosial. Jadi, kehormatan adalah penghargaan diri yang diakui dan diterima oleh masyarakat.

Malu sendiri merupakan perasaan yang menyertai kehormatan itu. Orang yang punya rasa malu adalah orang yang sensitif terhadap reputasi sosialnya. Orang yang tidak punya rasa malu adalah mereka yang tidak peduli dan tidak menghargai ikatan sosial, dalam bentuk status sosialnya itu. Orang tersebut akan kehilangan status sosialnya, dan dipandang negatif, nista. Karena itu, buah dari rasa malu adalah menjaga kehormatan (’iffah). Shalih ibn Abd al-Qudus menggubah sebuah puisi:

Apabila sedikit air muka
Maka sedikit rasa malunya
Tidak baik muka yang sedikit air
Maka peliharalah rasa malumu
Karena yang menunjukkan perbuatan orang mulia ialah rasa malunya

Nah, erosi rasa malu dalam masyarakat modern, yang kita alami saat ini, disebabkan pertama, manusia modern memiliki kecenderungan untuk membuka apa yang tidak pernah bisa dibuka; menelanjangi yang tak dapat ditelanjangi; manusia modern tidak suka dengan misteri. Semuanya harus transparan, bisa dijelaskan. Karena itu, dilakukanlah demitologisasi misteri.

Kemudian, kedua, manusia modern memiliki kecenderungan untuk menjadi individu yang total otonom, tak tergantung pada yang lain. Kesosialan diabaikan demi otonomi, padahal kodrat kesosialan itulah yang menyebabkan individu memiliki rasa malu.

Untuk merehabilitasi rasa malu yang luntur dari masyarakat modern saat ini, kita perlu mengembalikan manusia pada dua kodrat asalinya, yakni manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan menutup dan membuka diri serta manusia sebagai makhluk sosial.

Setelah yang pertama, malu sesuai dengan kodrat manusia, kedua adalah malu imani, yakni rasa malu yang dipicu oleh iman. Memang, Rasulullah SAW secara eksplisit mengaitkan malu dengan iman. Dalam beberapa hadis Rasulullah SAW menegaskan hal tersebut.

Iman terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu adalah salah satu dari bagian-bagian iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Malu dan iman itu bergandengan bersama, apabila salah satunya diangkat, maka yang lain pun akan terangkat. (HR Al Hakim)

Mengapa malu dikaitkan dengan iman? Minimal ada dua alasan. Pertama, pada dasarnya, iman adalah tanggapan hati kita akan kehadiran Allah. Tanggapan hati akan kehadiran Allah tersebut adalah buah makrifah (pengenalan bukan sekadar tahu) kita atas-Nya.

Kita mengenal Allah. Lalu, apa isi pengenalan kita tentang Allah? Kita mengenal bahwa: Allah itu ada, Allah adalah pencipta, dan Allah selalu hadir pada tiap inci hidup kita. Allah adalah asal wujud kita. Kita tidak mungkin ada tanpa-Nya. Nikmat wujud adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan-Nya. Namun, untuk itu semua, apakah kita telah mampu mengabdi kepada-Nya dengan sepenuh hati?

Kita malu untuk menjawabnya, bukan? Karena itu, al-Junaid berkata: perasaan malu adalah kondisi jiwa yang timbul dari kesadaran akan adanya nikmat dan akan adanya kekurangan pengabdian. Kita malu karena kita berlaku buruk di hadapan sang pemberi nikmat.

Nah, di sinilah urgensi malu! Malu menjadi tembok psikis agar kita tidak melakukan pelanggaran di hadapan kehadiran-Nya. Malu adalah rem perilaku. Malu mencegah kita dari perbuatan nista dan hina. Karena itu, jika kita tidak memiliki rasa malu, maka kita akan seenaknya dalam bertindak.

Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang pertama kali ditemui manusia adalah jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR Bukhari)

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW pernah berkata pada al-Asyad al-‘Asyri, seperti dikutip oleh Ibn Abbas,"Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan rasa malu.” (Musnad Ahmad)

Tingkat tertinggi rasa malu adalah malu kepada Allah. Bagaimana penjelasan Rasulullah SAW tentang rasa malu kepada Allah tersebut? Dari Ibn Mas’ud, ia berkata: Rasulullah bersabda,”Milikilah rasa malu pada Allah dengan sebenar-benarnya! Kami, para sahabat, berkata ’wahai Rasulullah, alhamdulillah, kami telah memiliki rasa malu’. Rasulullah berkata ’bukan sekadar itu'. Barang siapa yang malu kepada Allah yang sesungguhnya hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya. Hendaknya ia menjaga perutnya dan apa yang di dalamnya. Hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan hiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan itu semua, berarti ia malu kepada Allah dengan sesungguhnya.” (Musnad Ahmad)

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah hadis Qudis yang dikutip oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-Ibad-nya. Hadis ini diturunkan kepada sebagian para nabi. Bunyinya,"Barang siapa menemui Aku dengan senang kepada-Ku, maka Aku masukkan ke dalam surga-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa takut kepada-Ku, maka Aku elakkan dari neraka-Ku. Barang siapa menemui Aku dengan rasa malu kepada-Ku, maka Aku buat malaikat lupa menghitung dosa orang itu."
Wa Allah a’lam bi al-shawab.

*Dosen Universitas Paramadina Jakarta

sumber:

https://www.beritasatu.com/ramadansatu/ramadan/633815/rehabilitasi-rasa-malu 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed