Merdeka.com - Pengusaha Chairul Tanjung menegaskan bahwa inovasi dan kreativitas sebagai kunci utama dunia usaha dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Pengusaha yang kerap disapa CT itu mengatakan inovasi dan kreativitas menuntut siapa-pun untuk bisa menang dalam kompetisi di era teknologi seperti saat ini.

"Dalam era 4.0 kompetisi itu berubah. Kalau dulu yang menang itu yang lebih efisien dan produktif, sekarang dengan perubahan teknologi dan generasi, untuk menang butuh inovasi, kreativitas dan entrepreneurship," katanya seperti ditulis Antara, Kamis (17/1).

Menurut CT, efisiensi dan produktivitas hanya akan membuat pengusaha sekadar bertahan. Padahal untuk bisa menang bersaing, dibutuhkan inovasi dan kreativitas selain efisiensi dan produktivitas.

"Kita siap tidak? Untuk efisiensi dan produktivitas saja kota belum menang, sekarang tantangannya bertambah. Makanya kita butuh sumber daya manusia yang luar biasa untuk bisa menang kompetisi dan maju ke depan," kata mantan Menko Perekonomian itu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam kuliah umumnya bertajuk 'Indonesia and The World: Future Trajectory, Opportunity and Challenges' juga menekankan pentingnya inovasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

JK menyebutkan inovasi di tengah perubahan teknologi yang ada saat ini diharapkan dalam membuka peluang baru untuk membuka lapangan kerja alih-alih tergantikan oleh teknologi. "Jadi kita intinya harus berinovasi. Inovasi kepada hal yang baru yang diakibatkan oleh perubahan teknologi," ujarnya.

Kuliah umum yang digelar Universitas Paramadina dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman itu dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil serta staf ahli Wapres JK, yang juga pengusaha, Sofjan Wanandi. [idr]

 

https://www.merdeka.com/uang/chairul-tanjung-bocorkan-kunci-sukses-hadapi-revolusi-industri-40.html

 

Jakarta (ANTARA News) - Pengusaha Chairul Tanjung menilai inovasi dan kreativitas sebagai kunci utama bagi dunia usaha dalam menghadapi revolusi industri 4.0. 

Dalam diskusi kuliah umum Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Kamis, pengusaha yang kerap disapa CT itu mengatakan inovasi dan kreativitas menuntut siapa pun untuk bisa menang dalam kompetisi di era teknologi seperti saat ini. 

"Dalam era 4.0, kompetisi itu berubah. Kalau dulu yang menang itu yang lebih efisien dan produktif, sekarang dengan perubahan teknologi dan generasi, untuk menang butuh inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship" katanya. 

Menurut CT, efisiensi dan produktivitas hanya akan membuat pengusaha sekadar bertahan. Padahal untuk bisa menang bersaing, dibutuhkan inovasi dan kreativitas selain efisiensi dan produktivitas. 

"Kita siap tidak? Untuk efisiensi dan produktivitas saja kita belum menang, sekarang tantangannya bertambah. Makanya, kita butuh sumber daya manusia yang luar biasa untuk bisa menang kompetisi dan maju ke depan" tutur mantan Menko Perekonomian itu. 

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam kuliah umumnya bertajuk Indonesia and The World: Future Trajectory, Opportunity and Challenges juga menekankan pentingnya inovasi untuk menghadapi revolusi industri 4.0. 

JK menyebut inovasi di tengah perubahan teknologi yang ada saat ini diharapkan dalam membuka peluang baru untuk membuka lapangan kerja alih-alih tergantikan oleh teknologi. 

"Jadi, kita intinya harus berinovasi. Inovasi kepada hal yang baru yang diakibatkan oleh perubahan teknologi" ujarnya. 

Kuliah umum yang digelar Universitas Paramadina dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Jerman itu dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil serta staf ahli Wapres JK, yang juga pengusaha, Sofjan Wanandi. 

 

sumber:

https://www.antaranews.com/berita/788700/chairul-tanjung-inovasi-dan-kreativitas-kunci-hadapi-revolusi-40

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan kekagumannya terhadap kemampuan Wakil Presiden Jusuf Kalla memandang berbagai persoalan dengan praktis. 

Ia menceritakan pengalamannya bekerja dalam tim khusus untuk perdamaian Thailand Selatan pada 2008 saat masih menjabat Rektor Universitas Paramadina. 

Sebagai Wakil Presiden, Kalla saat itu bertanggung jawab sebagai mediator. "Proses negosiasi antarpihak di Bogor sangat dirahasiakan, pertemuan tertutup. Dalam proses itu saya dapat tugas membaca konstitusi Thailand," kata Anies dalam acara Indonesia and The World: Future Trajectory Opportunities and Challenges yang juga berpusat pada sosok Kalla di Hotel Mandarin Oriental, Kamis (17/1/2019). 

Anies mengatakan, konstitusi Thailand yang dibacanya mencapai 300 halaman. 

Setelah membaca konstitusi, Anies menyampaikan ke Kalla soal tawaran gencatan senjata. 

Ia menyarankan ke Kalla agar Indonesia mendorong gencatan senjata selama proses negosiasi. 

"Saya bayangkan orang baku tembak, dengan adanya negosiasi mudah-mudahan damai. Jadi Pak Jusuf Kalla tidak perlu ada gencatan senjata, kenapa? 'Supaya negosiasinya cepat selesai. Kalau di sana damai, negosiasinya tidak akan pernah selesai'," kata Anies menirukan Kalla waktu itu. 

Anies menilai Kalla memang sudah biasa menghadapi mediasi dan negosiasi. Menurutnya, Kalla bisa berpikir praktis. Selain itu, Anies menilai Kalla mampu berdiskusi dengan siapapun yang berbeda pandangan. 

"Pak JK itu kalau diajak diskusi dan didebat itu enggak ada marahnya, enggak ada. Kami berbeda pendapat sama sekali no problem, no hard feeling meskipun berbeda pendapat dan justru Pak JK itu menghargai pandangan-pandangan yang bervariasi," ujar Anies.

Anies mengaku beruntung bisa belajar banyak dari sosok Kalla. 

Ia meyakini kontribusi dan peran Kalla akan terus jalan kendati jabatannya akan berakhir pada Oktober 2019 nanti.

 

sumber

https://megapolitan.kompas.com/read/2019/01/18/06150011/pengalaman-anies-saat-beda-pendapat-dengan-jusuf-kalla 

 

bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis menatap kondisi ekonomi dalam negeri ke depan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Alasannya, stabilitas politik Tanah Air relatif terjaga.

Dalam sambutannya di acara diskusi yang digelar Universitas Paramadina dengan tema besar ‘Indonesia and World: Future Trajectory, Oportunity and Challenges,’ Wapres Kalla mengutarakan cita-cita pemerintah terkait dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang lebih baik ke depan.

Wapres Kalla optimistis Indonesia bisa memanfaatkan peluang di tengah perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

“Berdasar kepada situasi bahwa seperti saya katakan tadi, dibutuhkan stabilitas. Saya yakin di antara negara-negara Asean dan negara-negara lainnya Indonesia mempunyai stabilitas politik yang baik,” ucapnya, Kamis (17/1/2019).

Kendati demikian dia tidak memungkiri, ribut karena polemik politik tengah melanda dalam negeri karena menghadapi Pemilihan Umum  2019 pada 17 April mendatang.

Menurutnya, kisruh tersebut terjadi di dunia maya juga televisi. Berbeda dengan sejumlah negara lainnya, masalah politik menjadi pemicu aksi kekerasan di ruang publik.

“Seperti saya kayakan tadi meskipun pemilu ribut di dunia maya, ribut di TV  dan sebagainya tapi tidak ada masalah di lapangan. Tidak ada konflik di antara kita semua. Itu modal pokok bahwa demokrasi di indonesia bisa berjalan dengan baik walaupun juga ada tantangan demokrasi yang timbul,” ujarnya.

Dia menekankan, stabilitas politik bisa dijaga dengan peran dan pandangan keterbukaan yang populis. Hal itu, kata dia, mendorong negara bangsa berubah dan lebih maju.

Oleh karena itu, Wapres Kalla menilai demokrasi menjadi suatu pilihan terbaik dari sistem yang ada. Hal itu diharapkan membawa Indonesia kepada perubahan untuk menggapai pertumbuhan.

sumber:

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190117/9/879746/bicara-di-universitas-paramdina-wapres-jk-yakin-kondisi-ekonomi-politik-indonesia-baik

 

 

 

 

sumber

https://megapolitan.kompas.com/read/2019/01/18/06150011/pengalaman-anies-saat-beda-pendapat-dengan-jusuf-kalla 

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberikan pesan kepada mahasiswa kuliah umum Universitas Paramadina di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat agar menjadi calon pemimpin tidak 'grasak-grusuk' dan harus berjenjang. Dia mencontohkan, karirnya yang bertahap di pemerintah mulai jadi anggota DPR, MPR, Menteri, Menko, dan akhirnya jadi Wakil Presiden.

"Tapi satu hal yang ingin saya pesankan ke muda-muda, bahwa kita dapat maju, baik secara berjenjang dengan teratur, atau secara politis," kata JK di hadapan para mahasiswa Paramadina, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

"Jadi saya jalani hidup ini secara teratur, ini juga penting bahwa kita tidak perlu, kalau istilah jawabnya mungkin grasak-grusuk," ungkap JK.

Dia pun menceritakan, sejak mahasiswa menjabat sebagai ketua Senat, Dewan, KAMMI. Tanpa menghilangkan aturan. Tidak hanya itu, ketika memegang usaha bapaknya juga bertahap. Mulai dari manager, direktur, direktur utama, lalu preskom dan akhirnya pensiun. Dia meminta agar para pemuda tidak jalani secara terburu-buru.

"Tapi dijalani dengan hal-hal tersebut, sehingga penting bagaimana kita menjalani dengan baik, dengan kemampuan yang ada," kata JK. [rnd]

sumber:

https://www.merdeka.com/politik/jk-cerita-jadi-pemimpin-butuh-proses-tak-bisa-grasak-grusuk.html 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed