Previous Next

 

Seniman ajak warga membangun Street Gallery lewat mural. Kegiatan ini dilakukan untuk pendekatan partisipasi warga kota dalam membangun Street Gallery di Kota Tua.

Seniman jalanan bersama alumni dan mahasiswa IKJ serta mahasiswa Paramadina menuangkan kreasi mural di kawasan deretan Koridor Kota Tua, Jakarta, Sabtu (6/10).

sumber:

https://www.merdeka.com/foto/jakarta/1015870/20181007173953-seniman-ajak-warga-membangun-street-gallery-lewat-seni-003-debby-restu-utomo.html 

Epicentrum.id, Jakarta – Seniman Jalanan bersama Alumni dan Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV)  Universitas Paramadina melukis Mural di kawasan deretan Koridor Kota Tua, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).

Kegiatan itu dilakukan untuk pendekatan partisipasi warga kota dalam membangun street Gallery di Kota Tua, selain menjadi ruang bagi pengunjung yang menikmati ruang publik peninggalan kolonial tersebut.

Street Gallery ini adalah proses dari inisiatif Komunitas Alumni ITB Pecinta Kota Tua Jakarta yang di gawangi oleh Khalid Zabidi yang juga pengajar di DKV Universitas Paramadina.

“Kami melakukan pendekatan partisipasi akrif warga kota dalam membangun Street Gallery di Kota Tua melalui kolaborasi antara Alumni ITB Jakarta, Alumni dan mahasiswa IKJ, mahasiswa Paramadina.” Kata Khalid Zabidi, Dosen DKV Paramadina.

Seniman Jalanan bersama Alumni dan Mahasiswa IKJ serta mahasiswa Desain Komunikasi Universitas Paramadina melukis Mural di kawasan deretan Koridor Kota Tua, Jakarta, Sabtu (6/10). (Photo/Epicentrum.id)

Dipilihnya koridor ini karena pertimbangan lokasi yang terbengkalai/kumuh namun sering digunakan pelintas, pejalan kaki baik wisnus maupun wisman menuju heritage kota tua sebagai destinasi wisata.. Diharapkan kedepan banyak kolaborasi yang dapat dibangun utk memperindah kota khususnya jakarta yang juga punya dampak peningkatan kesadaran dan peningkatan ekonomi masy. setempat. (Ghita)

sumber:

https://epicentrum.id/2018/10/07/seniman-jalanan-bersama-mahasiswa-ikj-dan-paramadina-partisipasi-dalam-melukis-mural-kota-tua/ 

Oleh: Fuad Mahbub Siraj

Salat adalah momentum audiensi manusia dengan Tuhan. Kesempatan untuk memperbarui, memperbaiki, memperteguh,dan menyempurnakan hubungan dengan-Nya melalui pengagungan, pujian, syukur, permohonan, dan curhat mengenai segala urusan dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berpesan dalam Alquran,“Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan dengan salat; ini sungguh berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk.” (QS 2:45)

Demikian sentralnya posisi salat dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW bersabda,“Perbuatan seorang hamba Allah yang mula-mula diperhitungkan pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, baik pula semua amalnya, dan jika buruk, buruk pula amal lainnya.” (HR Thabrani)

Salat adalah untuk mengingat Allah SWT. Bila seseorang senantiasa ingat kepada Allah SWT, maka ia akan tenang dalam menjalani kehidupan dan menghadapi segala dinamika serta problematikanya.

“Sungguh, Akulah Allah: tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14)

“Sesungguhnya manusia diciptakan serbagelisah; bila ditimpa bahaya berkeluh kesah, dan bila menerima kekayaan kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan salat; mereka yang tetap setia mengerjakan salat.” (QS 70:19-23)

Esensi salat tertuang dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari Tuhannya sebagai berikut,“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil-alamin, Aku berkata, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan Ar-rahmanir-rahim, Aku berkata,‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Jika ia mengucapkan Maliki yaumiddin, Aku berkata,'Hamba-Ku telah memuliakan dan pasrah kepada-Ku.” Jika ia mengucapkan Iyyaka na’budu wa'iyyaka nasta’in, Aku berkata,‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku; baginya apa yang ia minta.’ Dan jika ia mengucapkan Ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin, Aku berkata,'Ini untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta'.” (HQR Muslim)

Tidak sempurna salat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah. Salat niscaya dilaksanakan dengan khusyuk. Peliharalah selalu semua salat dan salat pertengahan dan berdirilah di hadapan Allah dengan sekhusyuk hati. (QS 2:238)

Ikrar yang mesti diulang-ulang oleh setiap mukmin dan diresapkan dalam hati, pikiran, dan perasaannya ialah,“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku demi Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya.” (QS 6:162)

Rasulullah SAW meriwayatkan dari Tuhannya dalam hadis qudsi,“Aku hanya akan menerima salat dari seseorang yang rendah hati karena keagungan-Ku, tidak rewel pada ciptaan-Ku, tidak terus-menerus durhaka kepada-Ku; menghabiskan waktu siangnya untuk mengingat-Ku, menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan yang membutuhkan bantuan, dan para janda serta orang yang kena musibah. Aku akan melindunginya dengan kemuliaan-Ku.” (HQR al-Bazzar)

Setiap mukmin patut memanjatkan doa dan memohon kepada Allah SWT setiap saat,“Tuhan, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan salat, juga keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku. Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orangtuaku, dan orang-orang beriman pada hari diadakan perhitungan.” (QS 14:40-41)

 

http://www.beritasatu.com/ramadansatu/jalan-pulang/493477-salat-sebagai-mikraj.html 

Oleh Fuad Mahbub Siraj

Dikisahkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, dahulu ketika Allah menciptakan bumi, bumi kemudian bergetar. Ketika Allah menciptakan gunung, para malaikat kagum atas gunung-gunung tersebut.

Kemudian malaikat pun bertanya,"Ya Allah adakah dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?"

Allah SWT kemudian menjawab, yang lebih kuat daripada gunung adalah besi. Karena memang diketahui besi bisa menghancurkan batu-batuan bahkan gunung sekalipun.

Lalu malaikat kembali bertanya,"Ya Allah adakah dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?"

Allah pun menjawab yang lebih kuat daripada besi adalah api. Sebab api mampu menghancurkan dan melelehkan besi.

Kemudian malaikat kembali bertanya,"Ya Allah adakah yang lebih kuat dari api?"

Allah pun menjawab air. Betapa pun besar api, air mampu memadamkan api.

Malaikat lanjut bertanya,"Ya Rabb adakah yang lebih kuat dari air?"

Allah pun menjawab angin. Sebab betapa besar pun air, angin mampu mengangkat air tersebut.

Lalu malaikat akhirnya bertanya,"Ya Allah adakah penciptaan-Mu yang lebih kuat dari segalanya?"

Allah pun menjawab yang lebih kuat daripada semua yang ada dalam alam semesta ini adalah ketika anak-anak Adam bersedekah. Tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak mengetahui.

Dari kisah di atas dapat dikatakan bahwa ikhlas merupakan salah satu ajaran dalam Islam yang utama. Orang yang ikhlas adalah orang yang paling kuat di alam semesta ini. Karena orang yang ikhlas menunjukkan orang tersebut mampu menguasai dirinya dari segala noda dan campuran yang ada.

Lalu, seperti apa bentuk noda dan campuran tersebut?

Ikhlas disebutkan memurnikan segala sesuatu dari noda dan campuran. Campuran itu bisa dalam bentuk ingin dipuji, ingin dihormati, dan ingin dihargai karena memang itu semua merupakan bagian dari naluri manusia.

Orang yang ikhlas adalah orang yang mampu menahan dirinya dari segala bentuk campuran maupun noda. Karena itu marilah kita tingkatkan ikhlas. Semoga seluruh amal ibadah kita selalu dilandasi dengan ikhlas.

Penulis merupakan staf pengajar Universitas Paramadina

https://www.vidio.com/watch/1384921-menjadi-pribadi-yang-ikhlas

 

sumber:

http://www.beritasatu.com/ramadan/494012-menjadi-pribadi-yang-ikhlas.html 

Oleh: Fuad Mahbub Siraj

Salah satu ibadah yang diwajibkan oleh Allah dalam Alquran adalah ibadah puasa. Artinya, ibadah puasa adalah ajaran Alquran dan bukan hasil ijtihad manusia. Jika hasil ijtihad manusia, maka ibadah ini boleh diikuti dan boleh tidak. Namun, karena puasa adalah ajaran Alquran, maka jika kita tidak berpuasa, kita telah melanggar ajaran yang disampaikan oleh Alquran dan hukumnya adalah dosa.

Ibadah puasa diberikan Allah untuk manusia karena tidak ada satu pun manusia yang bisa menjamin dirinya terbebas dari dosa. Oleh karena itu, Allah memberikan ibadah puasa selama satu bulan penuh sebagai latihan dan penghapusan dosa-dosa manusia.

Puasa berarti menahan dan inti puasa itu terletak pada menahan atau terletak pada pengendalian dan yang dikendalikan bukan saja yang haram, melainkan juga yang halal. Dalam bulan puasa kita dilarang untuk makan, minum dan bergaul suami-istri di siang Ramadan. Karena itu semua adalah kebutuhan pokok dan jika kebutuhan pokok sudah mampu untuk ditahan, maka kebutuhan yang lain pasti akan bisa untuk ditahan.

Kenapa Allah menyuruh manusia untuk belajar menahan? Karena menahan inilah yang paling sulit bagi manusia. Contohnya dapat kita lihat pada Nabi Adam. Pada masa itu, Allah mengizinkannya untuk mengambil semuanya, kecuali satu, yaitu buah khuldi. Bisa disebut bahwa 99 persen Allah memberikan semua untuk Nabi Adam dan hanya 1 persen saja yang dilarang. Namun, Nabi Adam tidak bisa menahannya karena bujukan setan.

Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa manusia jika diberikan dua buah gunung dari emas, maka manusia akan mencari gunung emas yang ketiga karena manusia tidak bisa menahan dirinya.

Salah satu istilah penyebutan manusia adalah al-insan, yang berarti terlupa dan tersalah. Malaikat disebut sebagai malaikat karena malaikat selalu patuh kepada Allah dan setan disebut sebagai setan karena selalu ingkar kepada Allah. Manusia disebut sebagai manusia karena manusia memliki sifat lupa dan salah yang akan membuat manusia bisa menjadi seperti malaikat dan seperti setan.

Malaikat patuh sudah biasa, karena memang sifatnya demikian. Namun, manusia yang patuh melebihi malaikat karena sifat ingkarnya hilang karena kepatuhannya. Manusia yang jahat pun bisa lebih setan daripada setan, karena setan yang patuh sudah biasa karena memang sifatnya demikian.

Seekor harimau jika dimasukkan ke dalam kandang kambing, maka kambing yang habis hanya sekenyang perutnya saja, sedangkan manusia jika dimasukkan ke dalam kandang kambing, maka dengan kandang-kandangnya pun akan habis. Demikianlah sifat manusia yang sulit untuk menahan dirinya.

Puasa melatih manusia untuk mengendalikan dirinya karena salah satu kunci puasa adalah kejujuran. Puasa adalah ibadah yang sangat personal dan hanya diri kita dan Allah yang tahu apakah kita masih puasa atau tidak. Untuk itu, puasa akan melatih kita untuk membentuk mentalitas yang berakhlak.

Manusia diciptakan atas dua unsur, jasmani dan rohani. Jasmani manusia dari tanah dan tanah bersifat materi, maka kebutuhan jasmani manusia juga bersifat materi. Prinsip dalam Islam menyebutkan bahwa Allah bersifat suci maka yang bisa dekat dengan Allah juga yang suci dan Allah bersifat inmateriel, maka yang bisa dekat dengan Allah juga yang inmateriel.

Kebutuhan rohani manusia adalah yang suci dan yang inmateriel. Dengan itu, manusia akan selalu bersih rohaninya. Untuk itu, pada hakikatnya setiap ibadah adalah untuk membersihkan rohani manusia dan mendekatkan diri manusia kepada Allah SWT.

 

Penulis adalah pengajar di Universitas Paramadina Jakarta.

sumber:

http://www.beritasatu.com/ramadan/492751-puasa-dan-pengendalian-diri.html 

About us

Universitas Paramadina berdiri pada 10 Januari 1998, mengemban misi untuk membina ilmu pengetahuan rekayasa dengan kesadaran akhlak mulia demi kebahagiaan bersama seluruh umat manusia.

Latest Posts

21 October 2015
21 October 2015
21 October 2015

Hubungi Kami

Kampus S1:
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta 12790
T. +62-21-7918-1188
F. +62-21-799-3375

E-mail: info@paramadina.ac.id
http://www.paramadina.ac.id 

Kampus S2:
Gedung Tempo
Jalan Palmerah Barat No.8, 
Kebayoran Lama, Jakarta - 12240

T. +62-21-7918-1188 ext.: 242
F. +62-21-799-3375

http://www.paramadina.ac.id 

Jam

Our support hours are
available 24 hours a day
(+62) 815 918 11 88

Monday to Friday: 8:00 to 15:00
Saturday: 8:00 to 12:00
Sunday: Closed